Como 1907 Lolos ke Liga Champions Musim 2026/2027

Smallest Font
Largest Font

Klub sepak bola Como 1907 berhasil mencetak sejarah baru dengan memastikan diri lolos ke kualifikasi Liga Champions musim 2026/2027. Kepastian ini diraih setelah tim asuhan Cesc Fàbregas tersebut menyelesaikan kompetisi Serie A 2025/2026 di peringkat keempat, sebagaimana dilansir dari Bola.

Pencapaian spektakuler ini melengkapi empat wakil Italia di kompetisi antarklub tertinggi Eropa, mendampingi Inter Milan, Napoli, dan AS Roma. Keberhasilan Como 1907 melonjak pesat sejak diambil alih oleh Grup Djarum pada tahun 2019 tidak lepas dari pengelolaan manajemen yang terstruktur melalui pembentukan dewan sepak bola.

Presiden Como, Mirwan Suwarso, menjelaskan bahwa sistem manajemen dibangun agar tidak ada sosok yang tidak bisa digantikan di dalam struktur tim.

"Yang punya visi di lapangan kan dia. Lalu kita mencoba membantu dia menerapkan visinya. Apa sih ekosistem yang kita perlu bangun di sekitar dia? Saya belajar dari grup Djarum di mana pun juga, siapa pun yang berada di jajaran manajemen itu tidak boleh ada yang tidak irreplaceable," kata Mirwan Suwarso.

Dewan sepak bola tersebut diisi oleh delapan orang yang menduduki berbagai posisi penting, mulai dari bagian rekrutmen, pengembangan, strategi, performa, hingga tim kepelatihan dan keuangan.

"Jadi kita membangun namanya dewan sepak bola. Di situ ada head of recruitment, head of development, head of football strategy, head of performance. Baru di situ ada coaching, coaching team dari owner representatif, sport director, dan finance," imbuh Mirwan Suwarso.

Pengambilan keputusan penting di dalam tubuh klub dijalankan secara kolektif oleh kedelapan anggota dewan tersebut.

"Kita berdelapan itu menjadi kayak dewan sepak bolanya. Semua keputusan tuh harus diambil bersama," katanya.

Sistem ini juga berlaku ketat dalam menyaring pemain baru melalui pemanfaatan data sebelum diajukan ke tahap analisis berikutnya.

"Kalau rekrutmen pemain itu itu semua ada sistemnya. Pertama-tama harus dari tim rekrutmen yang mempelajari dari sisi data. Kalau datanya sudah masuk, sudah terfilter gitu misalnya, baru dimajukan ke tahap berikutnya," ujar Mirwan Suwarso.

Proses penyaringan data diklaim mampu memangkas ribuan kandidat pemain secara cepat untuk menghasilkan daftar pendek yang sesuai dengan karakter tim.

"Omong kosonglah. Kalau kita mau mencari pemain sayap kanan atau sayap kiri, data tuh bisa melihat 1000 pemain, 500 pemain dengan amat sangat cepat. Sehingga mereka bisa mempertajam.

Oke ini 30 pemain yang harus kita lihat. Dari 30 pemain tadi, itu masuk ke tim scouting di mana mereka melihat datanya benar enggak sih mereka cocok dengan gaya permainan kita".

Setelah lolos pemantauan gaya bermain, tim kemudian melakukan analisis perilaku dan psikologis sebelum masuk ke tahap pembahasan anggaran dengan tim keuangan.

"Kalau cocok, baru masuk ke ada yang namanya behavior analisis. Secara sikap, mereka masuk enggak sih secara psikologis? Kira-kira cocok enggak sih sama tim kita?

Kalau itu sudah cocok, baru masuk ke tim finance. Kira-kira masuk enggak sih nih secara bajet anggaran dan semuanya".

Pihak manajemen kemudian menyodorkan beberapa nama pilihan akhir kepada tim pelatih untuk diputuskan secara final.

"Kalau udah masuk semuanya, baru kita persembahkan, mungkin paling-paling tiga atau enam pemain ke tim pelatih. 'Lu mau sayap kanan, sayap kiri. Ini ada enam pemain, lu pilih yang mana deh'. Yang mana pun kita oke, terserah pelatih," tambahnya.

Meskipun tim kepelatihan yang dipimpin Fàbregas diizinkan merekomendasikan nama, pemain usulan tersebut tetap wajib melewati alur penyaringan yang sama.

"Kalau sampai misalnya dari timnya Fabregas, dia juga punya calon pemain. Calon itu pun harus masuk ke dalam proses yang sama. Dia sangat mendukung proses itu karena mempermudah pekerjaan dia kan," ujar Mirwan Suwarso.

Perencanaan bisnis yang matang juga dibuat untuk setiap pemain baru, seperti saat Como 1907 mendatangkan bek kanan Ivan Smolcic dari klub Kroasia, HNK Rijeka.

"Disaat kita mengidentifikasi pemain, setelah kita semua sepakat, kita harus bikin bisnis plan buat masing-masing pemain itu. Jadi misalnya kayak kemarin ada bek kanan namanya Ivan Smolchic. Kita beli dia dari HNK RijK, Kroasia," beber Mirwan Suwarso.

Rencana bisnis tersebut memuat target waktu, menit bermain, hingga program percepatan perkembangan yang dikoordinasikan oleh Head of Development bersama pelatih.

"Pertama-tama kita bilang, tahun ini dia bisa jadi bisnis plan dia apa nih? Berapa tahun sebelum dia jadi pemain inti, peran dia di tim kita apa, apakah dia pelapis, apakah jadi pemain utama, apakah jadi pemain kunci, itu dipilih dulu tuh".

Rencana ini menjadi alat ukur obyektif bagi manajemen untuk mengevaluasi keputusan pelatih jika ada pemain investasi yang tidak diturunkan dalam pertandingan.

"Lalu ditanya, berapa jauh dia bisa kita kembangkan. Itu tanggung jawabnya Head of Development berbincang sama tim pelatih. Terus dia bilang, 'Ini mungkin dia baru tahun kedua lah bisa jadi starter'. Kasarnya kayak gitu".

Evaluasi berkala terus dilakukan terhadap program pengembangan pemain untuk melihat apakah investasi tersebut berjalan dengan baik atau harus dilepas ke klub lain.

"Berarti untuk jadi starter dia harus main 15 pertandingan, 20 pertandingan. Apa yang diperlukan supaya dia bisa dipercepat development-nya? Itu dibikinin programnya lagi".

Jika target perkembangan tidak tercapai, manajemen memiliki tolok ukur yang jelas untuk mengambil langkah penjualan pemain.

"Nah, setelah kita semua sepakat, baru kita bisa bicaranya secara objektif gitu kan. Misalnya ada pemain yang kita beli tapi enggak dipasang. Kita tanya sama pelatih, 'Ini kita sepakat loh investasi kita.

Tiga tahun ini dia harus menjadi starter. Tapi kenapa enggak dipasang? Kenapa enggak main?'.

Pelatih kemudian memberikan masukan mengenai kekurangan teknis pemain, yang akan direspons oleh tim pengembangan lewat program khusus.

"Pelatih bisa mengatakan,'Dia masih kurang ABCDFG. Nah, di situ gua balikin ke tim development, 'Pemain ini kurang ABCDFG. Program apa yang bisa kita kasih ke dia?'. Sampai pada apakah dia berkembang atau tidak".

Mirwan Suwarso menegaskan posisinya di dalam dewan sepak bola bertindak sebagai pemimpin diskusi tanpa mengambil keputusan sepihak.

"Kasarnya kayak main saham gitu, kita cuts deh. Kita bisa jual berapa? Gitu loh.

Jadi semuanya ada ada tolok ukurnya yang sudah kita terapkan dan semua itu dia semua keputusannya diambil ramai-ramai. Enggak ada yang diambil oleh satu orang aja. Gua di situ sifatnya kayak kepala sekolah.

Cuma memimpin diskusi," kata Mirwan Suwarso.

Sebagai presiden klub, ia memastikan tidak pernah ikut campur dalam memberikan rekomendasi nama pemain baru demi menjaga objektivitas rapat dewan.

"Saya enggak ikut campur. Enggak ikut campur kayak gitu. Saya harus ikut di semua meeting.

Karena saya tidak punya agenda, saya bisa melihat secara objektif semuanya. Misalnya dari tim pelatih menyarankan satu pemain, dari tim football strategy menyatakan kalau kita ambil dia usianya terlalu muda, mungkin terlalu lama development-nya, saingannya gimana, perkembangannya gimana," tandasnya.

Keterlibatan dirinya dalam perdebatan transfer dibatasi hanya untuk membantu mengarahkan jalannya diskusi manajerial.

"Nah, disaat semua kondisi seperti itu, saya bisa bantuin ambil keputusan paling-paling cuma berapa lama sih dia bisa develop kalau dia develop dalam waktu dua tahun yang bisa masuk duluan siapa? Jadi cuma nanya-nanya membantu membantu diskusinya aja sih," pungkas Mirwan Suwarso.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed