Harga Bitcoin Naik ke Kisaran USD62.600 Hari Ini Dipicu Data Inflasi Inti AS

Smallest Font
Largest Font

Harga Bitcoin mengalami kenaikan sebesar 1,9 persen dalam 24 jam terakhir ke kisaran USD62.600 pada hari ini, Jumat, 12 Juni 2026. Penguatan ini terjadi setelah rilis data ekonomi makro Amerika Serikat menunjukkan inflasi inti bulanan tumbuh melandai di bawah ekspektasi pasar.

Meskipun mencatatkan pertumbuhan positif harian, performa aset kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar ini masih melemah tipis kurang dari 1 persen selama tujuh hari terakhir. Walau demikian, Bitcoin berhasil mempertahankan posisi harga di atas rata-rata pergerakan 200-minggunya (200-week moving average).

Sentimen positif pasar hari ini didorong oleh laporan Departemen Tenaga Kerja AS mengenai laju inflasi. Data tersebut memicu pertanyaan di kalangan investor mengenai "kenapa harga bitcoin naik hari ini" dan bagaimana pengaruh inflasi terhadap harga bitcoin secara jangka panjang.

Berdasarkan data ekonomi teranyar, inflasi inti bulanan AS (yang tidak mencakup komponen makanan dan energi) tercatat naik 0,2 persen dalam sebulan. Angka ini berada di bawah perkiraan awal para ekonom yang memprediksi kenaikan sebesar 0,3 persen. Secara tahunan, inflasi inti tumbuh 2,9 persen.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan inflasi umum atau indeks harga konsumen (IHK) keseluruhan. Investor global kerap menyoroti

"apa bedanya inflasi inti dan inflasi umum"

dalam menentukan arah portofolio mereka, termasuk untuk produk investasi etf spot kripto di nasdaq.

Perbandingan Kenaikan Komponen Inflasi

Inflasi umum tetap tinggi karena komponen energi menyumbang lebih dari 60 persen dari total kenaikan yang ada. Sektor energi melonjak 3,9 persen secara bulanan akibat melesatnya harga minyak mentah dunia yang dipicu oleh konflik Iran.

Secara keseluruhan, inflasi umum bulanan naik sebesar 0,5 persen secara bulanan dan melesat 4,2 persen secara tahunan. Capaian laju tahunan ini menjadi yang tercepat sejak April 2023 silam, sehingga memicu volatilitas tinggi di pasar keuangan global.

Rapor Merah Altcoin di Tengah Penguatan Bitcoin

Kendati Bitcoin berhasil memanfaatkan momentum pelandaian inflasi inti untuk merangkak naik, pergerakan ini tidak diikuti oleh mayoritas aset kripto alternatif (altcoin). Sebagian besar altcoin utama justru membukukan kerugian signifikan dalam akumulasi mingguan.

Aset kripto Ether (ETH) tercatat mengalami penurunan sekitar 6,5 persen dalam seminggu terakhir dan tertahan di kisaran USD1.651. Penurunan ini memperlihatkan adanya divergensi performa yang cukup lebar antara Bitcoin dan altcoin teratas.

Berikut adalah data performa mingguan sejumlah aset kripto utama dalam pasar kripto global:

Daftar Performa Mingguan Aset Kripto Utama per 12 Juni 2026
Nama Aset KriptoHarga/Kisaran Saat IniPerubahan Mingguan
Bitcoin (BTC)USD62.600Turun <1%
Ether (ETH)USD1.651Turun 6,5%
XRPUSD1,12Turun 7,5%
Solana (SOL)USD65Turun 7,4%
Dogecoin (DOGE)Turun 7%
BNBTurun 2,1%

Selain aset-asset di atas, pergerakan token interoperabilitas multichain juga menarik perhatian pelaku pasar dengan mencatatkan statistik perdagangan yang cukup aktif di tengah fluktuasi makroekonomi ini.

Pasar Kripto Menuju Data Penting Ekonomi | Toshi Crypto Indonesia

Statistik Perdagangan Token Interoperabilitas Multichain

Berdasarkan data pasar terbaru, token interoperabilitas multichain saat ini memiliki kapitalisasi pasar sebesar Rp981,79 miliar dengan volume perdagangan 24 jam yang sangat cair mencapai Rp3,09 triliun. Sepanjang sejarahnya, token ini bergerak di kisaran harga terendah Rp152,76 hingga tertinggi Rp25.624,06.

Saat ini, suplai beredar untuk token interoperabilitas multichain tersebut telah mencapai 6 miliar token dari total maksimum pasokan sebanyak 10 miliar token, atau setara dengan 60 persen. Data investasi menunjukkan rata-rata waktu menahan (holding time) investor untuk aset ini berada di angka 52 hari.

Aktivitas perdagangan terbaru untuk token multichain ini memperlihatkan dominasi sentimen akumulasi dari para pelaku pasar. Berdasarkan volume transaksi terkini, tercatat angka sebesar 33 persen untuk aksi menjual (sell) dan mayoritas sebesar 67 persen melakukan aksi membeli (buy).

Informasi ini bukan saran investasi. Konsultasikan dengan penasihat keuangan.

Hingga saat ini, pelaku pasar masih terus mencermati pergerakan suku bunga bank sentral AS yang diperkirakan akan sangat bergantung pada rilis data inflasi inti dan inflasi umum pada periode-periode berikutnya.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed