Kahudi Wahyu Widodo Tuntut Pelunasan Gaji dari Manajemen PSIS Semarang

Smallest Font
Largest Font
Table of Contents
[ Show ]

Persoalan hak finansial yang belum diselesaikan oleh manajemen PT Mahesa Jenar Semarang kembali mendapat penegasan sikap dari mantan pelatih PSIS Semarang, Kahudi Wahyu Widodo.

Seperti dilaporkan oleh Bola, mantan juru taktik Laskar Mahesa Jenar tersebut menyatakan bahwa dirinya masih memiliki hak pembayaran yang belum dilunasi oleh pihak klub sejak musim lalu.

Tunggakan hak finansial yang belum diselesaikan oleh manajemen PSIS Semarang tersebut mencakup masa kerja selama dua bulan.

Kahudi Wahyu Widodo merinci bahwa hak yang belum dia terima terdiri dari satu bulan gaji berjalan serta satu bulan kompensasi atas pemutusan kontrak kerja.

"I tidak ingin masalah internal klub dijadikan alasan untuk menyelesaikan masalah ini. Kami tahu profesionalisme dan harus menghormati perjanjian kerja sama," ujarnya pada Sabtu (6/6/2026).

Langkah tegas juga diambil oleh Kahudi Wahyu Widodo dengan mengembalikan fasilitas kendaraan operasional yang sebelumnya dia terima dari pihak manajemen klub.

Tindakan penyerahan kembali mobil operasional tersebut dilakukan demi mencegah terjadinya kesalahpahaman atau potensi perselisihan hukum dengan manajemen PSIS Semarang di masa mendatang.

Mantan asisten pelatih PSBS Biak ini menyampaikan permohonan maaf terkait keputusan yang diambil, sembari menegaskan langkah itu murni untuk kejelasan status hak serta kewajibannya.

"Mohon maaf atas apa yang saya lakukan, karena saya hanya ingin hak saya segera diselesaikan. Saya tidak ingin ada masalah dengan kendaraan yang ada di saya," ucap Kahudi.

Sorotan Terhadap Tata Kelola Kontrak Klub

Pelatih yang saat ini berusia 47 tahun tersebut turut menyoroti adanya perbedaan pandangan mengenai implementasi kontrak, terutama terkait munculnya kesepakatan informal di luar dokumen resmi.

Menurut pandangan Kahudi Wahyu Widodo, setiap bentuk kerja sama sepak bola profesional harus selalu berpatokan pada kontrak tertulis yang disepakati di awal, bukan berdasarkan komunikasi perseorangan.

"Tidak profesional apa yang ada di kontrak kerja saya, seharusnya itu yang dibuat dasar. Jangan bicara perseorangan. Kalau ada kesepakatan di luar itu, ya berarti urusan internal perusahaan," katanya.

Mantan arsitek tim Persijap Jepara ini sangat menyayangkan munculnya kendala tata kelola finansial di tengah tren perkembangan positif yang sedang dialami oleh sepak bola nasional.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow