Kecelakaan Motor Menimpa Mantan Petinju Pino Bahari di Bali
Kondisi memprihatinkan kini menimpa mantan petinju nasional, Pino Bahari, akibat kecelakaan sepeda motor di kawasan Sanur pada 13 April lalu. Peristiwa tersebut menyebabkan empat tulang rusuk kiri dan kaki kiri pria berusia 53 tahun itu patah.
Dikutip dari Bola, situasi ini membuat sang legenda yang menetap di Bali tersebut tidak bisa beraktivitas. Keadaan finansial yang tidak menentu sempat membuatnya pasrah menghadapi biaya operasi yang sangat besar.
“Waktu itu, biaya operasi membutuhkan sekitar Rp200 juta. Beruntungnya sebagian besar masih di tanggung oleh BPJS Kesehatan. Sekarang sudah berangsur membaik meskipun gerak saya terbatas,” beber Pino pada Selasa (5/5/2026).
Pada hari yang sama, Wakil Menteri Pemuda dan Olahraga (Wamenpora), Taufik Hidayat, sebenarnya dijadwalkan mendatangi kediaman Pino Bahari. Namun, rencana kunjungan tersebut batal terlaksana karena kendala tertentu.
Taufik Hidayat bersama Menpora Erick Thohir diketahui sedang berada di Bali selama dua hari terakhir. Keduanya menghadiri rangkaian agenda SEA Ministerial Meeting On Youth and Sports 2026.
Meskipun batal bertemu langsung, Pino Bahari tetap mengapresiasi upaya Taufik Hidayat yang sempat menghubunginya via telepon untuk menanyakan situasi kesehatannya. Hingga kini, belum ada bantuan resmi dari pihak pemerintah.
Bagi Pino, perhatian dari sesama mantan atlet nasional memiliki arti yang besar. Kendati demikian, ia memberikan catatan bahwa bentuk kepedulian yang mengalir sejauh ini masih bersifat personal.
“Saya bersyukur beliau masih ingat dan berusaha menyempatkan diri menjenguk saya. Tapi memang itu masih secara pribadi, belum atas nama pemerintah,” bebernya.
Berkaca dari musibah yang dialaminya, Pino menaruh harapan besar agar pemerintah menerbitkan regulasi yang menjamin kesejahteraan para atlet setelah masa pensiun. Kebijakan ini diharapkan mampu melindungi masa depan mantan atlet berprestasi.
Langkah perlindungan tersebut dinilai krusial karena banyak mantan atlet yang menghadapi realitas hidup kurang beruntung selepas gantung sarung tinju atau pensiun dari dunia olahraga. Penerapan dana pensiun dianggap menjadi solusi paling tepat.
“Harus ada regulasi atau undang-undang yang menjamin masa depan atlet. Jangan sampai setelah selesai membela negara, mereka kesulitan hidup,” tegasnya.
Keberadaan payung hukum yang jelas mengenai hari tua atlet juga diyakini bisa memberikan dampak positif bagi regenerasi olahraga. Orang tua diyakini tidak akan ragu melepas anak-anak mereka berkarier di jalur prestasi.
“Kalau ada jaminan masa tua yang jelas, orang tua pasti lebih yakin mendukung anaknya menjadi atlet nasional,” tutup Pino.
Pino Bahari merupakan sosok bersejarah sebagai petinju Indonesia terakhir yang menyabet medali emas di ajang Asian Games 1990 di Beijing pada kelas menengah 75 kg setelah menumbangkan wakil Mongolia, Bandiin Altangerel.
Sebelum mengalami kecelakaan, Pino yang sempat melatih Daud Yordan pada periode 2018-2019 ini menyambung hidup dengan menjadi pengemudi daring. Ia juga kehilangan pekerjaan sebagai pelatih di sebuah sasana kawasan Canggu karena sepinya member latihan.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow