Wahyudi Hamisi Ungkap Kehidupan Sepak Bola Usai Pisah dari Persijap

Smallest Font
Largest Font

Gelandang sepak bola Wahyudi Hamisi mengungkapkan kisah perjalanan kariernya yang sempat bercita-cita menjadi pegawai bank sebelum akhirnya berfokus di dunia olahraga profesional setelah resmi berpisah dari klub Persijap Jepara.

Pemain kelahiran Kotamobagu, Sulawesi Utara tersebut secara resmi hengkang dari Persijap per Rabu, 24 Juni lalu, sebagaimana dilansir dari Bola. Selama mengarungi musim 2025/2026 di BRI Super League, Hamisi tercatat tampil dalam 29 pertandingan dengan menorehkan satu assist, delapan kartu kuning, dan satu kartu merah.

Sebelum memutuskan serius di lapangan hijau, Hamisi mengaku sempat menempuh pendidikan tinggi di bidang ekonomi untuk mengejar impian lamanya di dunia perbankan.

"Dulu saya sempat kuliah di fakultas ekonomi swasta di Manado. Nah, dulu saya niatnya mau menjadi pegawai bank waktu itu," ujar Wahyudi Hamisi.

Namun, perkembangan karier sepak bola yang berjalan mulus membuat atlet berusia 28 tahun tersebut harus merelakan bangku kuliahnya demi fokus sebagai pesepak bola professional.

"Tapi karena sudah terlanjur main sepak bola dan sudah berkarier di sepak bola. Jadi kuliah saya tinggalin, sudah enggak kepikiran lagi. Tapi dulu niatnya kuliah karena mau diperbankan," sambung Wahyudi Hamisi.

Karier profesional Hamisi sendiri dimulai dari akademi Borneo FC, sebelum kemudian melanjutkan perjalanannya bersama PSS Sleman pada periode 2023 hingga 2025, dan terakhir memperkuat Persijap Jepara pada musim 2025-2026.

Bagi gelandang berpostur 166 cm ini, sepak bola telah bertransformasi menjadi pilar utama dalam kehidupannya, baik sebagai hobi maupun sumber mata pencaharian utama untuk keluarga.

"Sepak bola itu sudah jadi kehidupan untuk saya. Kehidupan untuk saya menghidupi keluarga juga, mata pencaharian buat saya sendiri," kata Wahyudi Hamisi.

Ia juga menambahkan bahwa olahraga ini sudah sangat melekat erat dalam dirinya sepanjang menjalani karier dari kompetisi usia muda hingga kasta tertinggi.

"Arti sepak bola mungkin sepak bola ya mendarah daging dan sudah jadi kehidupan saya," lanjut Wahyudi Hamisi.

Meskipun sudah lama melanglang buana di kompetisi domestik, pemain kelahiran 28 Juli 1997 ini menegaskan masih memiliki ambisi besar yang ingin dicapai sebelum gantung sepatu, termasuk memenangkan kompetisi kasta tertinggi.

"Mimpi saya mungkin seluruh pemain bola pasti mimpinya bisa bermain di tim nasional ataupun bisa juara liga itu mimpi terbesar sih. Tapi untuk sampai sekarang ini saya masih bermimpi juga," ungkap Wahyudi Hamisi.

Selain gelar juara, Hamisi juga menargetkan agar dirinya mampu menjaga performa agar bisa terus bersaing di kompetisi level teratas Indonesia hingga waktu pensiunnya tiba nanti.

"Ya di balik itu saya mimpinya bisa pensiun di umur yang sesuai saya targetkan. Jadi saya bisa bertahan sampai pensiun. Kalau bisa saya main di Liga 1 terus jangan sampai turun ke bawah kasta kedua," imbuh Wahyudi Hamisi.

Mengenai gaya bermainnya di lapangan tengah, Hamisi menyatakan bahwa dirinya lebih menikmati peran sebagai pengumpan yang memberikan servis kepada rekan setimnya dibandingkan mencetak gol sendiri.

"Assist karena di sepak bola yang paling dilihat itu pasti orang yang bikin gol tapi di balik itu ada orang yang kerja keras, mungkin dia kasih umpan yang bagus untuk pemain yang cetak gol," ucap Wahyudi Hamisi.

Ia menilai kontribusi berupa umpan matang jauh lebih realistis bagi perannya sebagai seorang gelandang jangkar dalam sebuah tim.

"Menurut saya lebih baik bikin assist karena saya juga jarang bikin gol ya di dalam posisiku. Jadi kemungkinan besar ya cuma bikin assist," tutup Wahyudi Hamisi.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed