Hp Xiaomi Redmi S2 Masih Layak Dipakai Jelang Windu Peluncurannya

Smallest Font
Largest Font

Ekspektasi saya runtuh saat menyalakan kembali Xiaomi Redmi S2 yang kini hampir menyentuh usia satu windu sejak pertama kali dirilis. Banyak orang mengira perangkat lawas ini sudah sepenuhnya mati dan tidak bisa digunakan untuk kebutuhan harian modern. Nyatanya, ponsel ini masih menyimpan sisa-sisa kejayaan yang menarik untuk dibahas.

Melalui artikel ini, saya akan mengupas tuntas bagaimana performa nyata perangkat ini di tengah ekosistem aplikasi yang makin berat. Saat pertama kali menyentuh bodi belakangnya, plastik polikarbonat langsung menyapa jari saya. Sensasinya tentu sangat berbeda dengan material kaca atau kulit sintetis yang ramai digunakan pada perangkat masa kini.

Ukurannya terasa sangat ringkas. Ketebalan bodi yang minim membuat ponsel ini sangat nyaman diselipkan ke dalam saku celana jins yang ketat sekalipun.

Namun, estetika layarnya jelas berteriak jadul. Ponsel ini belum mengadopsi desain melengkung modern seperti layar Curved AMOLED milik Redmi Note 15 SE yang begitu menawan dengan bezel tipisnya. Layar Xiaomi Redmi S2 masih dikelilingi oleh dahi dan dagu yang sangat tebal. Aspek rasio lawas ini membuat area pandang terasa sempit saat saya gunakan untuk membaca artikel panjang atau menjelajahi media sosial.

Xiaomi Redmi S2 membawa desain masa lalu yang mengingatkan kita pada era transisi layar penuh, sebelum tren layar melengkung mendominasi pasar.

Menakar Performa Dapur Pacu Lawas Melawan Aplikasi Modern

Sektor performa adalah medan pertempuran yang paling berat bagi ponsel berumur panjang ini. Chipset yang tertanam di dalamnya harus bekerja ekstra keras, bahkan hanya untuk membuka menu pengaturan atau beralih antar aplikasi. Sering kali saya mendapati animasi yang patah-patah saat menggulir beranda aplikasi belanja online. Hal ini sangat kontras jika kita membandingkannya dengan kelancaran Snapdragon 6 Gen 3 octa-core berarsitektur 4nm yang tertanam pada perangkat baru seperti Redmi Note 15 SE.

Kapasitas memorinya juga menjadi batasan besar. Menggunakan manajemen RAM bawaannya membuat aplikasi di latar belakang sering kali tertutup secara otomatis. Ruang penyimpanannya pun sangat sesak.

Anda akan sangat sering melihat notifikasi memori penuh jika hobi mengoleksi foto atau video beresolusi tinggi di dalam galeri. Beruntung, ponsel ini masih menyediakan slot memori eksternal. Fitur ini menjadi penyelamat darurat, meskipun kecepatan bacanya tentu tidak sebanding dengan teknologi storage LPDDR4X + UFS 2.2 yang jamak ditemukan sekarang.

Kamera Xiaomi Redmi S2 vs Standar Fotografi Masa Kini

Sektor fotografi Xiaomi Redmi S2 menyajikan kontras yang sangat kentara antara ekspektasi dan realita di lapangan. Pada kondisi cahaya matahari yang melimpah, kamera utamanya masih mampu menghasilkan detail gambar yang cukup untuk sekadar dibagikan ke grup percakapan keluarga.

Sistem kecerdasan buatan bawaannya pun masih berusaha keras mendeteksi objek. Namun, ceritanya akan langsung berubah drastis saat matahari mulai tenggelam. Foto dalam kondisi redup menghasilkan banyak bintik digital atau noise.

Kamera ponsel ini belum dibekali sensor mutakhir seperti Light Fusion 400 dengan kamera 50MP MasterPixel AI Dual Camera layaknya perangkat modern. Reproduksi warnanya cenderung pucat dan kehilangan kontras secara masif. Rentang dinamis yang sempit membuat area bayangan terlihat gelap gulita tanpa detail yang jelas.

Kamera depannya juga tidak bisa berharap banyak. Meskipun sempat diunggulkan pada masanya untuk berswafoto, hasilnya kini terasa sangat standar dan kurang tajam untuk standar video call profesional.

Tumben Xiaomi begini Review Xiaomi Redmi S2 | GadgetIn

Konektivitas dan Ketahanan Baterai yang Mulai Kedodoran

Sektor daya menjadi salah satu kelemahan yang paling terasa selama pengujian santai ini. Kapasitas baterai Xiaomi Redmi S2 yang relatif kecil membuat saya harus selalu akrab dengan kabel pengisi daya sepanjang hari. Kecepatan pengisian dayanya pun sangat lambat. Ponsel ini membutuhkan waktu yang cukup lama untuk terisi penuh, sangat jauh tertinggal jika dibandingkan dengan pengisian daya 45W Turbo Charging yang bisa mengisi baterai 5800mAh dalam sekejap.

Urusan jaringan juga menjadi catatan kritis yang wajib Anda perhatikan. Ponsel ini masih setia pada jaringan generasi lama, belum mendukung konektivitas 5G yang kini sudah merata di berbagai kota besar. Masalah sinkronisasi nirkabel juga kadang muncul.

Hal ini selaras dengan laporan pengguna di forum Garmin yang mengeluhkan bahwa perangkat wearable seperti Vivoactive 3 sering kali mengalami putus koneksi bluetooth saat disambungkan ke Xiaomi Redmi S2. Berikut adalah tabel perbandingan spesifikasi untuk memberikan gambaran vertikal yang jelas antara perangkat lawas ini dengan standar teknologi yang ada di pasar saat ini.

Perbandingan Spesifikasi Komponen Kunci Perangkat Xiaomi
Fitur KomponenXiaomi Redmi S2Redmi Note 15 SE
Jenis LayarIPS LCD StandarCurved AMOLED 12-bit
Refresh Rate60Hz120Hz
Kapasitas Baterai3080mAh5800mAh
Teknologi Jaringan4G LTE5G Connectivity
Versi BluetoothBluetooth 4.2Bluetooth 5.4

Kekurangan Fatal yang Sulit Ditoleransi

Menilai ponsel ini secara objektif berarti harus berani mengungkap daftar kekurangannya yang menumpuk. Masalah terbesar terletak pada dukungan perangkat lunak yang sudah lama dihentikan oleh pabrikan.

Ponsel ini terjebak pada antarmuka MIUI lawas. Anda tidak akan pernah mencicipi kegesitan sistem operasi Xiaomi HyperOS 3 berbasis Android 15 yang terkenal hemat daya dan kaya fitur itu.

  • Absennya pembaruan keamanan berkala membuat perangkat ini sangat rentan terhadap celah peretasan modern.
  • Kompatibilitas aplikasi perbankan digital makin terbatas karena menuntut versi Android yang lebih baru.
  • Ketiadaan sertifikasi ketahanan air IP65/IP66 membuat Anda harus ekstra waspada saat gerimis melanda.

Kualitas audionya juga terdengar cempreng dan pecah pada volume maksimal. Speaker tunggalnya tidak mampu menyajikan pengalaman megah seperti Dolby Atmos dual speakers yang memiliki fitur 300% volume boost.

Rekomendasi Akhir

Mempertahankan Xiaomi Redmi S2 sebagai perangkat utama adalah keputusan yang sangat menyiksa diri. Ponsel ini sudah selayaknya diposisikan sebagai gawai cadangan darurat untuk sekadar menerima pesan teks ringan atau panggilan suara saja.

Langkahnya yang tertatih-tatih dalam mengesekusi aplikasi harian menjadi bukti otentik bahwa putaran roda teknologi tidak pernah menunggu siapapun. Jika Anda memiliki anggaran lebih, beralih ke perangkat dengan arsitektur chipset modern adalah pilihan paling bijak demi kenyamanan dan keamanan digital Anda.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow