11 Pemain Premier League dengan Gaji Tidak Seimbang pada Musim 2026/2027
Pemain-pemain Liga Inggris dikenal sebagai atlet dengan bayaran tertinggi di dunia. Namun, sejumlah bintang dari Arsenal, Chelsea, hingga Manchester City dinilai menerima gaji yang terlalu besar dibanding kontribusi yang mereka berikan di atas lapangan.
Kombinasi antara kebutuhan mendesak klub untuk meraih hasil instan dan dana melimpah membuat beberapa tim rela menggelontorkan bayaran fantastis kepada pemain yang belum mampu membuktikan kualitasnya.
Berdasarkan penilaian tersebut, berikut susunan 11 pemain Premier League yang dianggap menerima gaji tidak sebanding dengan performanya pada musim 2026/2027. Tim ini disusun menggunakan formasi 4-3-3 dan diisi pemain dari lima klub berbeda.
- Kiper: Giorgi Mamardashvili (Rp2,04 Miliar Per Pekan) — Kiper Timnas Georgia ini lebih banyak menghabiskan waktu di bangku cadangan Liverpool karena kalah bersaing. Gaji yang diterima belum sepadan dengan kontribusinya di lapangan.
- Bek Kanan: Ben White (Rp3,6 Miliar Per Pekan) — Setelah empat tahun sejak 2022, White kini lebih sering menjadi pelapis di Arsenal dan hanya tampil dalam 12 pertandingan Premier League musim lalu, membuat gajinya dirasa tidak sesuai kontribusi.
- Bek Tengah: Wesley Fofana (Rp4,8 Miliar Per Pekan) — Karier Fofana di Chelsea terganggu cedera, meski gajinya tinggi, performanya belum memenuhi ekspektasi dan perlu peningkatan di bawah pelatih baru.
- Bek Tengah: Tosin Adarabioyo (Rp2,88 Miliar Per Pekan) — Meski bukan yang bergaji tertinggi, penampilan biasa-biasa saja membuat gajinya dinilai terlalu besar untuk kontribusinya di Chelsea.
- Bek Kiri: Luke Shaw (Rp3,6 Miliar Per Pekan) — Shaw memiliki riwayat cedera panjang selama di Manchester United. Klub berencana menyesuaikan gajinya dengan kontrak baru yang lebih rendah.
- Gelandang Tengah: Kalvin Phillips (Rp3,6 Miliar Per Pekan) — Sejak bergabung dengan Manchester City pada 2022, Phillips hanya dua kali menjadi starter dan memiliki kontrak hingga 2028, namun kontribusinya minim dibanding gaji besar yang diterima.
- Gelandang Tengah: Tijjani Reijnders (Rp5,52 Miliar Per Pekan) — Debutnya sempat menjanjikan, tetapi performa Reijnders cenderung biasa-biasa saja sehingga gajinya dianggap terlalu tinggi untuk kontribusi yang ada.
- Gelandang Tengah: Conor Gallagher (Rp3,84 Miliar Per Pekan) — Gelandang Tottenham Hotspur yang dikenal pekerja keras ini dinilai memiliki gaji terlalu besar dibanding kualitas permainannya yang solid, bukan luar biasa.
- Sayap Kanan: Omar Marmoush (Rp7,08 Miliar Per Pekan) — Marmoush merupakan pemain dengan gaji tertinggi ketujuh Premier League, tetapi hanya delapan kali menjadi starter di musim lalu sehingga gajinya dianggap berlebihan.
- Sayap Kiri: Jack Grealish (Rp7,08 Miliar Per Pekan) — Setelah sukses meraih treble pada 2023, kontribusi Grealish menurun dan belum mampu membenarkan gaji tinggi yang diterimanya di Manchester City.
- Penyerang: Gabriel Jesus (Rp6,36 Miliar Per Pekan) — Jesus dianggap berbakat, namun produktivitas golnya rendah dalam tiga musim terakhir dan sering mengalami cedera, sehingga gaji yang diterima dinilai tidak sepadan.
Kesimpulannya, sejumlah pemain Premier League menerima gaji besar yang tidak seimbang dengan kontribusi mereka di lapangan, menimbulkan kontroversi terkait kebijakan penggajian klub.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow