Bung Ferry Tanggapi Boikot The Jakmania Saat Peluncuran Tim Persija

Smallest Font
Largest Font

Mantan Ketua The Jakmania, Ferry Indrasjarief atau Bung Ferry, menanggapi aksi boikot yang dilakukan suporter terhadap acara peluncuran tim Persija dan laga uji coba melawan Brisbane Roar di Jakarta International Stadium (JIS), Sabtu (29/8/2026).

Aksi boikot tersebut dipicu oleh penolakan atas kenaikan harga tiket kategori 2 tier 2 sebesar Rp130 ribu dan kategori 2 tier 1 sebesar Rp150 ribu di luar pajak. Menyikapi kekosongan tribune, manajemen Persija mengalihkan kuota tiket suporter kepada penonton umum, sebagaimana dilansir dari Bola.

Masalah ini dinilai Bung Ferry mencerminkan adanya saluran komunikasi yang tersumbat antara manajemen klub dan pendukungnya.

"Ya, sebenarnya sayang ya. Ini kan berarti ada komunikasi yang tidak berjalan dengan baik, dan komunikasi itu tidak bisa dibilang 'manajemen kurang komunikasi dengan...'. Komunikasi itu dua arah, seperti cinta juga dua arah, kan. Nah, dua arah, jadi dua-duanya ini belum berhasil menjalin komunikasi dengan baik," ujar Bung Ferry.

Kondisi yang berkembang saat ini turut memicu kebingungan di kalangan anggota di tingkat tapak.

"Efeknya tidak bagus. Efeknya ke anggota. Anggota jadi bingung.

Ada yang ingin menonton, tetapi dilarang. Ininya mau... KTA-nya mau dicabut begitu.

Sebenarnya sayang ya. Waktu saya sama 39 anak muda yang lain, termasuk Gugun Gondrong, ber-40 kami mendirikan The Jakmania, untuk apa? Untuk mengajak masyarakat Jakarta mendukung Persija, bukan melarang.

Bukan melarang menonton begitu. Jadi, sebetulnya itu," tuturnya.

Kepemilikan kartu anggota sebetulnya menjadi sarana utama guna memperoleh kemudahan akses pendukungan.

"Dan anggota, kenapa ada orang yang mau masuk The Jakmania bikin KTA? Harapan mereka apa? Supaya mereka bisa mendapatkan tiket dengan lebih mudah dan lebih murah. Dan ketika harapan itu tidak bisa mereka dapat, mereka akan berpikir antara dua, ikut berjuang bersama atau keluar dari barisan, mereka beli sendiri perorangan," ucap Bung Ferry.

Pilihan pribadi pada akhirnya akan ditentukan berdasarkan pertimbangan kepraktisan masing-masing pendukung.

"Tergantung mana yang lebih mudah dan lebih murah. Begitu. Kalau ternyata mereka beli perorangan, mereka merasa itu lebih mudah dan lebih murah, ya itu yang akan mereka lakukan," imbuhnya.

Wacana penyesuaian tarif masuk sejatinya telah dibahas jauh sebelum Musyawarah Besar organisasi dilaksanakan.

"Jadi, sebetulnya saya berharap tadinya ini dipertimbangkan masak-masak. Tiket naik itu kan saya sudah informasikan jauh sebelum ada mubes Jakmania. Ketika saya mengajak tiga calon Ketum itu untuk makan bersama, saya ajak ngobrol.

Saya kasih tahu bahwa 'PR berat kalian, siapa pun yang terpilih, adalah ada rencana dari manajemen untuk menaikkan harga tiket. Jadi, sebaiknya ini dikomunikasikan dengan cepat'," ungkap Bung Ferry.

Keputusan klub untuk menjual tiket ke publik luas dipandang sebagai respons logis atas pengosongan kuota suporter.

"Biar bagaimanapun, tiket ini kan haknya penonton, ya kan? Awalnya ditawarkan ke Jakmania, tetapi karena The Jakmania menolak untuk datang, ya ditawarkan ke pihak yang lain, begitu. Begitu, dan ini sebetulnya untuk mengembalikan seperti dulu akan sulit.

Akan sulit, begitu. Karena bukan berarti kedua-duanya keras, tetapi untuk mengembalikan seperti dulu," paparnya.

Meskipun menganggap boikot sebagai hak, Bung Ferry menegaskan agar penyampaian aspirasi tidak mengarah pada tindakan intimidatif.

"Selama mereka menjaga... boikot silakan, itu hak mereka. Ya. Tetapi, jangan melakukan hal-hal yang negatif sehingga mengancam manajemen 'Saya gedor', itu kan tidak bagus.

Kalau kita mau bekerja sama, kedua belah pihak harus sama-sama nyaman. Iya. Begitu kan.

Kalau tidak sama-sama nyaman, ini kan... kan harusnya diketahui, kenapa bisa naik? Begitu harusnya ada pembicara, dan pembicaraan itu bukan berarti melibatkan massa yang besar," lanjutnya.

Penyelesaian dinamika organisasi semestinya mengedepankan mekanisme perwakilan kepengurusan resmi.

"Ini Jakmania itu organisasi terpimpin, harus perwakilan. Ya, buat apa kita punya organisasi terpimpin kalau ternyata yang datang geruduk, geruduk, geruduk. Ya... bukan organisasi terpimpin namanya," kata Bung Ferry.

Upaya dialog formal tetap direncanakan guna memulihkan hubungan kerja sama antar lembaga.

"Kalau saya sekarang, kalau saya lihat, saya nanti mau bicara dengan beberapa petinggi, begitu. Saya masih mau mencoba menyambung-nyambungin tali silaturahmi ini. Tetapi, kalau ternyata dari sana bilang 'Ya sudah, kan mereka sudah memutuskan tidak mau mengambil, ya sudah.' Begitu," ujar Bung Ferry.

Langkah mediasi lanjutan kini berada di tangan pengurus inti organisasi suporter tersebut.

"Jadi, harusnya sekarang menurut saya ya, Aditya Putra sebagai Ketua The Jakmania, dia mengajak sekum-nya, ketua hariannya, bendahara umumnya untuk sama-sama menghadap dan bilang 'Mau apa di ke depannya? Enaknya bagaimana nih, Pak?' Begitu. 'Apakah ini tetap utama, apakah bagaimana?' Tetapi, komunikasi yang dijalankan itu harus dijalankan dengan baik, bukan saling merasa lebih tinggi, begitu," tuturnya.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed