Densus 88 Ungkap 247 Anak Terpapar Jaringan Teror Digital
Tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Mabes Polri mengungkapkan sebanyak 247 anak usia sekolah dasar hingga sekolah menengah atas teridentifikasi telah terpapar jaringan terorisme melalui media sosial. Informasi tersebut disampaikan dalam kegiatan sosialisasi Pemerintah Kota Gorontalo di Kelurahan Tamalate, Kecamatan Kota Timur, pada Sabtu, 4 Juli 2026. Data mengenai ratusan pelajar yang masuk dalam jaringan teror tersebut dipicu oleh minimnya pengawasan orang tua terhadap aktivitas digital anak.
Kelompok radikal saat ini memanfaatkan perkembangan teknologi untuk menyebarkan paham ekstrem dan melakukan perekrutan terselubung secara digital, seperti dilansir dari Ulanda. “Media sosial juga memiliki dampak negatif terhadap anak-anak kita, apalagi mereka masih pelajar. Dari data yang kami peroleh, ada 247 anak mulai dari SD sampai SMA yang sudah masuk jaringan teror karena kurang perhatian orang tua dan terlalu sering menggunakan media sosial,” ujar Ketua Tim Densus 88 Mabes Polri, Teguh.
Penyebaran ideologi kekerasan kini telah bergeser dari pertemuan tatap muka ke platform digital, grup percakapan, dan konten media sosial yang menyasar generasi muda. Fase pencarian jati diri membuat anak-anak menjadi kelompok yang sangat rentan terpapar materi radikal tanpa pendampingan keluarga.
“Kami berharap sosialisasi yang digelar Pemerintah Kota Gorontalo ini menjadi momentum penting bagi masyarakat. Orang tua harus lebih memperhatikan anak-anaknya, terutama dalam menggunakan handphone dan media sosial,” kata Teguh. Dalam penanganan kasus di lapangan, tim penegak hukum bahkan menemukan seorang siswa kelas VI sekolah dasar yang sudah terafiliasi dengan jaringan terorisme akibat interaksi intensif di ruang digital.
“Pengalaman kami, ada anak yang masih kelas VI SD akibat media sosial sudah terafiliasi aksi teror. Ini kami harap menjadi perhatian bersama,” ujar Teguh. Upaya pencegahan radikalisme digital ini tidak dapat bertumpu pada aparat penegak hukum semata, melainkan membutuhkan keterlibatan aktif dari lingkungan keluarga, sekolah, dan tokoh masyarakat. Komunikasi dua arah yang intens antara orang tua dan anak dinilai lebih efektif dalam membangun daya tangkal kritis dibandingkan sekadar membatasi penggunaan gawai.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow