Red Bull Alami Dilema Pengalihan Fokus Pengembangan Mobil F1 2027
Kinerja mobil RB22 yang tidak kunjung membaik memicu dilema besar bagi Red Bull pada musim Formula 1 2026. Seperti dilansir dari Bola, tim asal Milton Keynes tersebut dikabarkan mulai menyerah mengejar ketertinggalan setelah menjalani 11 balapan tanpa satu pun kemenangan. Red Bull kini menempati urutan keempat klasemen konstruktor dan tertinggal lebih dari 200 poin dari Mercedes yang memimpin di posisi teratas.
Sepanjang musim ini, pencapaian terbaik mereka hanya empat kali podium yang semuanya disumbangkan oleh Max Verstappen. Berbagai langkah peningkatan komponen telah dipasang pada RB22, tetapi belum ada pembaruan yang mampu membenahi masalah mendasar pada kendaraan. Kondisi ini memicu pertimbangan internal untuk menghentikan alokasi dana pada paket mobil saat ini demi mengalihkan seluruh sumber daya ke proyek musim 2027.
Laporan F1 Insider pada Selasa (11/8/2026) menyebutkan bahwa jajaran internal Red Bull mulai memandang RB22 sebagai proyek yang gagal mencapai target performa. Meskipun menjadi tim yang paling rajin membawa paket pembaruan, perbaikan tersebut gagal memberikan dampak signifikan.
Frustrasi juga melanda Max Verstappen. Pebalap asal Belanda itu memang sukses mengamankan tiga podium dalam empat seri sebelum jeda musim panas, namun ia tetap melontarkan kritik terhadap pengendalian jet daratnya. Masalah pengendalian tersebut juga dirasakan oleh rekan setimnya. Pada gelaran Grand Prix Hungaria, Verstappen bersama Isack Hadjar sama-sama mengeluhkan ketidakstabilan RB22 saat dipacu di lintasan.
Departemen teknis yang berada di bawah arahan Pierre Wache sebenarnya telah menyusun beberapa tahap evaluasi untuk menjinakkan karakter mobil. Meski demikian, rangkaian solusi teknis yang diterapkan sejauh ini belum membuahkan hasil positif. Persoalan utama Red Bull dilaporkan berpusat pada sektor sasis, bukan pada unit daya mandiri yang baru mereka gunakan musim ini. Sejak awal keputusannya, Laurent Mekies memang telah menurunkan ekspektasi publik mengingat 2026 merupakan tahun perdana penggunaan mesin buatan internal.
Peluang Bangkit Berbeda dari Musim Sebelumnya
Jika dibandingkan dengan musim 2025, perolehan angka Red Bull sebenarnya tidak jauh berbeda. Setelah melewati 11 seri, selisih poin mereka hanya tertinggal 15 angka dari periode yang sama pada tahun lalu.
Pada musim 2025, Red Bull berhasil bangkit berkat pembaruan agresif hingga Verstappen memangkas jarak 104 poin dan mengakhiri musim di posisi kedua, tepat dua angka di belakang Lando Norris yang keluar sebagai juara dunia.
Namun, peta persaingan musim ini menyajikan tantangan yang jauh lebih berat. Verstappen saat ini tertinggal 110 poin dari Kimi Antonelli yang bertengger di puncak klasemen pebalap, sehingga peluang mengulang skenario kebangkitan dinilai sangat kecil.
Pilihan Strategis Menatap Regulasi Musim 2027
Red Bull saat ini berharap bisa mendapatkan akses bantuan regulasi berupa ADUO (Additional Developmental and Upgrade Opportunities). Fasilitas ini diperuntukkan bagi pabrikan yang tertinggal dari standar benchmark mesin ICE untuk mengejar performa pesaing. Sebelumnya Red Bull berstatus sebagai benchmark, namun posisi tersebut diprediksi akan beralih ke tangan Mercedes saat FIA merilis pembaruan peringkat resmi nanti.
Perubahan regulasi F1 untuk musim 2027 dinilai memberikan keuntungan bagi tim yang memulai riset lebih awal. Namun, Red Bull juga memiliki alasan kuat untuk tidak sepenuhnya menelantarkan RB22 pada sisa musim ini.
Verstappen memiliki klausul pelepasan kontrak yang dapat diaktifkan pada Oktober. Oleh karena itu, peningkatan performa mobil pada paruh kedua musim menjadi syarat krusial agar sang juara dunia empat kali tersebut bersedia bertahan.
Mengingat sejumlah posisi pebalap di tim rival diperkirakan mulai terbuka pada 2028, tingkat daya saing mobil Red Bull pada musim depan akan menjadi penentu utama masa depan Verstappen bersama tim.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow