Rochi Putiray Kritisi Pembinaan Usia Muda Sepak Bola Indonesia
Mantan penyerang Timnas Indonesia, Rochi Putiray, membagikan pandangannya mengenai kondisi sepak bola tanah air, mulai dari kualitas kompetisi hingga performa striker lokal saat ini.
Sosok yang aktif membela skuad Garuda pada periode 1991 hingga 2004 ini dikenal sebagai salah satu striker tajam dengan catatan 41 caps dan 17 gol, seperti dikutip dari Bola.
Rochi Putiray mengaku saat ini dirinya jarang menyaksikan kompetisi liga domestik karena menilai masih banyak hal kontroversial yang tersaji di dalam pertandingan.
"Kalau saya sih jarang nonton. Orang nonton itu untuk edukasi. Tapi kalau saya lihat di Liga Indonesia, dari Liga 1 sampai Liga 4, masih banyak hal yang kontroversial. Semua memang dalam proses perbaikan, tetapi masih banyak yang belum berubah," ujar Rochi.
Mengenai minimnya striker lokal yang mampu menembus skuad utama Timnas Indonesia, pemain kelahiran 26 Juni 1970 ini menegaskan bahwa akar masalahnya berada pada sistem pembinaan usia muda.
"Kalau sekarang banyak pemain asing atau naturalisasi, berarti ada yang salah dengan pembinaan. Yang harus introspeksi bukan federasi, melainkan pelatih lokal, terutama di akademi dan SSB. Seberapa mampu mereka menciptakan pemain yang kualitasnya setara pemain naturalisasi? Itu tantangannya," tegas mantan striker Timnas Indonesia tersebut.
Rochi Putiray kemudian memberikan analisis mendalam mengenai penyerang Timnas Indonesia, Ramadhan Sananta, yang dinilainya kalah bersinar dibanding pemain naturalisasi, Ole Romeny.
"Dengan adanya regulasi baru itu, buat saya, ya tantangan sekarang yang kita lihat apa sih yang kalah dari pemain lokal? Teknik punya. Salah satu contoh yang saya mau kasih tahu ya Ramadhan Sananta. Setiap saya nonton, coba kamu flashback, nonton semua pertandingannya Sananta," tukasnya.
"Dia punya penempatan posisi bagus, dia punya pergerakan bagus, dan dia selalu dapat bola itu one on one dengan pemain belakang lawan loh. Tapi apa yang terjadi? Selalu hilang bola. Selalu 10 kali itu, sembilan kali dia gagal melewati bek lawan".
"Jadi yang salah siapa? Ole Romeny punya pergerakan itu, dia mesti kerja keras. Kerja keras untuk bagaimana ruang itu dia bisa dapat, kesempatan itu dia bisa dapat.
Tapi Sananta enggak. Dia pintar sekali menempatkan posisi yang di mana pada saat dapat bola ke dia itu selalu one on one dengan satu centerback".
"Tapi selalu kalah. Selalu kalah duel. Selalu kalah duel.
Selalu kalah satu lawan satu. Selalu kalah, kadang tidak fokus. Nah, itu yang saya billing bahwa sebenarnya bukan salahnya.
Saya enggak tahu, mungkin pelatihnya tidak kasih tahu ataupun dia sendiri tidak nonton video itu balik."
Kisah Dwigol ke Gawang AC Milan
Selain membahas tim nasional, Rochi Putiray juga mengenang kembali momen ketika dirinya mencetak dua gol ke gawang klub raksasa Italia, AC Milan, pada 30 Mei 2004 saat memperkuat klub Hong Kong, Kitchee SC.
Sebelum menghadapi AC Milan, Rochi Putiray sempat bertanding melawan Sampdoria di Jakarta bersama rekannya sesama penyerang legendaris Indonesia, Kurniawan Dwi Yulianto.
"Pas main lawan AC Milan itu juga, sebelumnya main di Jakarta lawan Samdoria dengan Kurniawan. Tapi bedanya di sana itu lebih rileks. Jadi mereka tidak mencari kemenangan. Mereka sudah tahu bahwa itu cuman ajang promosi," kata Rochi Putiray
"Jadi mereka tur prausim dari China, terus ke Hong Kong. Itu sangat luar biasa. Maksudnya, enggak ada pemain yang punya ambisi mau jadi starting lineup karena mereka tahu itu cuman sekedar eksekbisi," tambahnya.
"Saya cuma main di babak kedua kok. Karena memang di situ ada prioritas ada pemain asing yang memang levelnya bagus. Karena memang tidak ada tuntutan, lebih rileks, jadi bermainnya itu lebih lebih lepas gitu loh.
Manajemen juga tidak menuntut harus menang karena memang mereka tahu itu cuman komersial. Jadi ya sudah keberuntungan saya bisa bikin dua gol," tutup Rochi Putiray.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow