Wakil Wali Kota Tangerang Dorong Penguatan Ketahanan Iklim Perkotaan Melalui Budaya Gotong Royong

Smallest Font
Largest Font

Pemerintah Kota Tangerang menegaskan bahwa penguatan ketahanan iklim perkotaan harus bertumpu pada sumber daya manusia melalui pengaktifan kembali budaya gotong royong di tingkat komunitas terendah. Langkah strategis ini diperlukan guna memastikan program lingkungan berdampak langsung pada masyarakat.

Konteks penguatan lingkungan ini sejalan dengan agenda nasional, seperti penyelenggaraan Hari Aksi Pengendalian Iklim oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Acara tersebut berlangsung di Gedung Manggala Wanabakti, DKI Jakarta, dengan rangkaian Seminar, Talkshow, serta Dialog Interaktif selama minimal dua hari.

Wakil Wali Kota Tangerang, H. Sachrudin menyatakan bahwa aspek terpenting dalam mengubah tata wajah dan ketahanan sebuah kota adalah pembangunan kapasitas warganya. Oleh karena itu, investasi pada manusia menjadi kunci utama keberhasilan program jangka panjang pemerintah.

"Memang yang paling penting itu adalah Sumber Daya Manusia. Jadi SDM dari suatu kota itulah yang dapat merubah wajah kota tersebut. Oleh karenanya, pembinaan ditingkat bawah seperti RT dan RW sangat diperlukan," ujarnya.

Implementasi Program Kampung Iklim Berbasis Komunitas

Pemerintah daerah terus mengupayakan cara menumbuhkan kembali budaya gotong royong yang punah di sebagian wilayah perkotaan melalui program terstruktur. Salah satu wadah utamanya adalah Program Kampung Iklim yang menyasar wilayah rukun tetangga dan rukun warga secara langsung.

Pembinaan dan Pendampingan SDM

Upaya memulihkan kepedulian sosial ini dilakukan melalui skema intervensi yang menyeluruh dari pihak birokrasi. Menurut H. Sachrudin, pemerintah berkomitmen hadir di tengah warga untuk memberikan panduan teknis serta motivasi berkelanjutan.

"Kita lakukan pembinaan, pelatihan, serta pendampingan baik internal maupun eksternal, sehingga bentuk program seperti Kampung Iklim ini betul-betul terasa hasilnya. Ini sudah menjadi tugas pokok pemerintah," kata H. Sachrudin.

Komunikasi dan Penyelesaian Masalah Bersama

Budaya gotong royong masa kini tidak hanya terbatas pada aktivitas fisik, melainkan juga ruang ruang dialog antarwarga. Interaksi sosial menjadi instrumen penting untuk memetakan tantangan lingkungan hidup yang dihadapi oleh komunitas lokal.

"Memang yang dibutuhkan masyarakat sekarang bentuk kerja bakti atau gotong royongnya itu adalah bagaimana cara mereka berinteraksi, komunikasi, dan membahas persoalan di wilayah tempat tinggal mereka bagaimana bisa diselesaikan bersama," tutur H. Sachrudin.
Revitalisasi Budaya Gotong Royong di Masyarakat Modern | M Radio Surabaya

Sinergi Aksi Kemanusiaan dan Penguatan Sosial

Selain sektor lingkungan hidup, pemulihan modal sosial dan kesetiakawanan juga diakselerasi melalui lembaga kemanusiaan di berbagai daerah. Penguatan kelembagaan ini menjadi indikator penting dalam menjaga stabilitas sosial masyarakat saat menghadapi potensi bencana.

Sebagai contoh nyata penguatan organisasi kemanusiaan di tingkat daerah, struktur kepengurusan Palang Merah Indonesia (PMI) terus diperbarui guna meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi dampak perubahan iklim global.

Berikut adalah agenda pelantikan kepengurusan PMI yang baru saja dilaksanakan sebagai bagian dari penguatan jaringan kesiapsiagaan kemanusiaan daerah:

Data Pelantikan Pengurus Organisasi Kemanusiaan Daerah
Agenda KegiatanWaktu PelaksanaanLokasi AcaraMasa Bakti
Pelantikan Pengurus dan Dewan Kehormatan PMI Kota CirebonRabu, 3 Juni 2026Ruang Adipura Kencana, Balai Kota Cirebon2026–2031

Aktivitas penguatan kapasitas kelembagaan seperti ini diharapkan mampu mendukung program aksi iklim perkotaan secara terintegrasi. Peran aktif masyarakat sipil dan lembaga kemanusiaan menjadi komplemen bagi program-program yang dicanangkan oleh pemerintah pusat maupun daerah.

H. Sachrudin menambahkan, terdapat tiga pilar utama yang wajib diingat oleh seluruh lapisan masyarakat dalam menyukseskan program ketahanan ini. Warga diharapkan tidak hanya menjadi objek pembangunan, melainkan aktor utama yang aktif bergerak.

"Ada tiga hal yang harus kita ingat. Mendukung program pemerintah, menyambutnya dengan baik, dan memanfaatkan dengan sebaik-baiknya hasil dari apa yang sudah kita kerjakan," pungkasnya.

Melalui integrasi program Kampung Iklim di berbagai kota dan kesiapsiagaan lembaga kemanusiaan seperti PMI, pola koordinasi berbasis gotong royong ini diharapkan dapat memitigasi dampak buruk perubahan cuaca ekstrem di wilayah urban.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow