Apple Targetkan Produksi 85 Juta Unit iPhone Paruh Kedua 2026
Apple menetapkan target total produksi jajaran iPhone sebanyak 85 juta unit untuk paruh kedua tahun 2026 ini. Langkah raksasa teknologi tersebut diambil guna memastikan pasokan global aman di tengah persiapan peluncuran beberapa varian perangkat premium terbaru mereka.
Berdasarkan data industri terpercaya yang dihimpun pada Sabtu, 18 Juli 2026, fokus utama dari strategi manufaktur Apple saat ini tertuju pada peningkatan volume produksi ponsel lipat perdananya, iPhone Fold. Apple secara signifikan menaikkan target produksi untuk perangkat lipat tersebut menjadi 10 juta unit, yang menandai lonjakan sekitar 30 persen dari estimasi awal di kisaran 7 hingga 8 juta unit.
Guna memenuhi target raksasa tersebut, mitra manufaktur utama Apple, Foxconn, langsung bergerak cepat dengan merekrut ribuan tenaga kerja baru di fasilitas produksinya yang terletak di Longhua, China. Langkah agresif ini dilakukan demi mempercepat kesiapan rantai pasok komponen menjelang jendela peluncuran global.
Skema Upah Pekerja Perakitan
Informasi dari internal industri mengungkapkan bahwa Foxconn menawarkan upah yang kompetitif untuk menjaring tenaga kerja musiman maupun tetap demi menjaga stabilitas kapasitas produksi jajaran iPhone baru ini.
Berikut adalah rincian struktur upah bagi para pekerja di fasilitas perakitan Foxconn Longhua saat ini:
| Kategori Karyawan | Sistem Upah | Nilai Kompensasi |
|---|---|---|
| Pekerja Sementara | Per Jam | 22–26 yuan (setara US$3,2–3,8) |
| Karyawan Tetap (Masa Percobaan) | Per Bulan | Sekitar 2.600 yuan |
| Karyawan Tetap (Pasca Percobaan) | Per Bulan | Sekitar 2.950 yuan |
Pembengkakan Biaya Komponen Seri Pro Max
Selain fokus pada lini ponsel lipat premium yang memiliki dimensi layar luar sekitar 5,5 inci serta layar utama mendekati 7,8 inci tersebut, Apple juga dihadapkan pada tantangan finansial pada lini reguler lainnya. Laporan dari lembaga riset mengindikasikan adanya potensi pembengkakan biaya produksi komponen pada seri tertinggi berikutnya.
Dampak Biaya Wafer Silikon TSMC
Biaya produksi komponen bill of materials untuk varian tertinggi iPhone 18 Pro Max diprediksi membengkak hingga hampir US$300 atau sekitar Rp4,8 juta lebih mahal dibandingkan dengan generasi pendahulunya. Faktor utama pemicu kenaikan ini adalah mahalnya biaya produksi wafer silikon 12 inci dengan arsitektur 2nm (N2) dari TSMC yang kini menembus angka US$20.000 per keping.
Prediksi Harga Retail di Pasar Global dan Indonesia
Kenaikan ongkos produksi pada tingkat hulu ini diproyeksikan bakal berdampak langsung pada dompet konsumen saat produk resmi dilepas ke pasar.
- Lembaga riset memprediksi kenaikan harga retail rata-rata iPhone 18 Pro Max sebesar US$200 atau sekitar Rp3,2 juta.
- Estimasi harga retail awal untuk varian terendah iPhone 18 Pro Max diperkirakan bakal berada di kisaran US$1.399.
- Untuk pasar Indonesia, harga retail iPhone 18 Pro Max melalui distributor resmi iBox diestimasikan bakal menyentuh angka Rp29 juta hingga Rp33 juta untuk kapasitas memori terbesar.
- Sementara itu, varian eksklusif seperti iPhone Fold atau iPhone Ultra diperkirakan menembus harga retail retail sekitar US$2.500 atau setara Rp40,5 juta.
Strategi Diversifikasi Pasokan Chip
Untuk mengamankan pasokan chipset di tengah ambisi produksi yang masif ini, Apple terus menjalankan kebijakan diversifikasi mitra dagangnya. Di samping mengandalkan arsitektur mutakhir TSMC, Apple dilaporkan tetap membagi porsi produksi prosesor untuk perangkatnya guna meminimalkan risiko kelangkaan komponen di masa depan.
Langkah penyeimbangan ini terlihat dari keputusan perusahaan yang meminta Samsung untuk memegang porsi produksi chip A8 milik Apple dengan alokasi sebesar 30 hingga 40 persen dari total kebutuhan operasional global. Pengaturan ini memastikan lini perakitan di Foxconn tetap mendapatkan pasokan silikon yang stabil untuk mengejar target 85 juta unit hingga akhir tahun nanti.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow