Cristian Romero Dikritik Pedas dan Disebut Kapten Terburuk Spurs
Kritik tajam menerpa Cristian Romero terkait kepemimpinannya sebagai kapten Tottenham Hotspur menjelang kepindahannya. Mantan penyerang Liverpool, Dean Saunders, menyebut bek asal Argentina itu sebagai salah satu kapten terburuk dalam sejarah Premier League, sebagaimana dilansir dari Bola.
Penilaian serupa turut dilontarkan oleh mantan striker Aston Villa, Gabby Agbonlahor. Romero mencatatkan musim pertamanya sebagai kapten Tottenham pada musim lalu, namun Spurs kembali harus mengakhiri kompetisi di urutan ke-17 Premier League untuk dua musim secara beruntun.
Sepanjang musim tersebut, pemain berusia 28 tahun itu tampil sebanyak 23 kali dan mengoleksi dua kartu merah. Ia juga menuai sorotan pada penghujung musim karena terbang ke Argentina saat Tottenham masih harus melakoni laga krusial demi terhindar dari degradasi.
Sorotan terhadap Romero makin menguat setelah sang pemain terlibat kontroversi di Piala Dunia 2026 yang memicu kritik bagi Timnas Argentina. Rangkaian kejadian tersebut mendorong Saunders memberikan pandangan kerasnya.
"Romero adalah satu di antara kapten terburuk dalam sejarah Premier League," kata Saunders kepada talkSPORT Breakfast.
Saunders menekankan kegagalan pencapaian tim di bawah kepemimpinan bek tersebut.
"Tottenham finis di posisi ke-17 selama dua musim berturut-turut. Dia kaptennya, jadi tentu tidak bisa dibilang menjalankan perannya dengan baik," imbuhnya.
Ia juga menyentil temperamen Romero di lapangan yang rentan membuahkan kartu merah. Sikap Romero selepas peluit akhir pada laga Piala Dunia 2026 dinilai mencerminkan karakternya.
Agbonlahor menyetujui pandangan tersebut dan menegaskan pentingnya peran seorang kapten sebagai teladan tim.
"Kapten adalah sebuah kehormatan. Seorang kapten harus menetapkan standar bagi rekan-rekannya. Romero bukan tipe kapten yang Anda inginkan.
Saat tim kesulitan, Anda tidak akan melihatnya mengangkat semangat tim. Dia justru bisa saja mendapat kartu merah," ujar Agbonlahor dalam program Drive.
Agbonlahor menganggap Romero sebagai sosok yang berisiko bagi skuat. Walau mengakui kehebatannya di tim nasional, ia mengkritik sikap sang pemain yang seolah merasa berada di atas klub.
Mengenai aksi Romero yang bertahan di Argentina sebelum laga pamungkas musim lalu, Agbonlahor menilai kepulangannya ke London kemungkinan besar terjadi atas dorongan agen.
Masalah emosi dan tekel keras Romero turut menjadi perhatian utama. Agbonlahor membandingkan rekor disiplin Romero yang mengoleksi enam kartu merah dari 40 laga bersama Spurs, sedangkan di Timnas Argentina ia bersih dari kartu merah.
"Dia mampu melakukan tekel dengan baik ketika memang menginginkannya. Bersama Argentina dia punya 40 caps tanpa kartu merah, tetapi bersama Spurs sudah enam kali mendapat kartu merah. Itu sudah menjelaskan semuanya," ucap Agbonlahor.
Peluang Hijrah ke Atletico Madrid
Masa depan Romero bersama Tottenham Hotspur kini diperkirakan akan segera berakhir setelah lima musim menetap di London Utara. Bek asal Argentina tersebut dilaporkan sudah mencapai kesepakatan pribadi dengan Atletico Madrid.
Sebelum menjalin kesepakatan dengan Atletico Madrid, ia sempat berdiskusi dengan Inter Milan serta masuk dalam radar transfer Arsenal. Agbonlahor menilai Atletico Madrid sangat cocok dengan karakter permainan Romero yang agresif di bawah asuhan Diego Simeone.
"Kalau ada tim yang cocok untuk Romero, itu adalah Atletico Madrid. Kalau saya boleh bertaruh siapa pemain yang paling banyak mendapat kartu merah, saya akan memilih dia," lanjut legenda Aston Villa tersebut.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow