Daniel Siebert Pimpin Final Liga Champions Antara Arsenal Melawan PSG
Wasit asal Jerman, Daniel Siebert, resmi ditunjuk oleh UEFA untuk memimpin pertandingan final Liga Champions 2026 yang mempertemukan Arsenal melawan Paris Saint-Germain (PSG) pada akhir pekan ini. Penunjukan tersebut, dilansir dari Bola, kembali mengingatkan publik pada kontroversi besar dalam karier internasional Siebert saat memimpin laga fase grup Piala Dunia 2022 antara Uruguay melawan Ghana. Meskipun Uruguay menang 2-0 pada laga tersebut, mereka tetap tersingkir karena kalah produktivitas gol dari Korea Selatan, yang memicu kemarahan besar para pemain kepada sang pengadil lapangan setelah peluit akhir berbunyi.
Edinson Cavani menjadi salah satu pemain yang melampiaskan emosinya secara langsung dengan memukul monitor VAR serta melontarkan kritik tajam atas kepemimpinan Siebert pada pertandingan itu.
"Mereka harus memasukkannya ke penjara," kata Cavani, mantan penyerang Manchester United. Kekecewaan mendalam skuad Uruguay dipicu oleh beberapa tuntutan hadiah penalti sepanjang pertandingan melawan Ghana yang seluruhnya ditolak oleh Siebert.
"Tetapi, jika saya dihukum karena memukul VAR maka wasit yang membuat kami tersingkir dari Piala Dunia juga harus dimasukkan ke penjara," imbuh Cavani. Pada tempat terpisah yang tidak terkait dengan insiden tersebut, Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa melepas tim nasional Bafana Bafana menuju Piala Dunia 2026 di Pretoria pada hari Rabu serta menjanjikan hari libur nasional jika mereka menjadi juara.
Terkait aksi protes kerasnya di Qatar, Cavani kemudian memberikan penjelasan mengenai tekanan emosional besar yang dihadapi oleh para pemain di atas lapangan. "Hal-hal seperti itu bisa terjadi. Orang-orang harus sedikit melihat dari sisi pemain sepak bola, bukan hanya dari sisi wasit atau pihak lainnya.
Mereka harus melihat apa yang terjadi, mengapa itu terjadi, dan mengapa semuanya berlangsung seperti itu," ujar Cavani. Ia juga menambahkan bahwa para pemain tetaplah manusia biasa yang terkadang bertindak berdasarkan gairah tinggi setelah bekerja keras untuk bersaing di turnamen besar.
"Memang benar kami harus menjaga perilaku dan sebagainya. Namun, kami juga manusia. Kadang apa yang terjadi di lapangan dijalani dengan penuh gairah. Anda bekerja sangat keras untuk sampai ke sana, untuk bersaing, dan melalui semua proses itu," tutur Cavani.
Meskipun tindakan emosional tersebut dinilai salah, sang penyerang menganggap reaksi yang muncul saat itu setidaknya dapat dipahami situasinya. "Karena itu, reaksi seorang pemain mungkin tidak bisa dibenarkan, tetapi setidaknya bisa sedikit lebih dimaklumi," lanjut Cavani. Walau sempat memicu kontroversi di Qatar, Siebert tetap dipercaya bertugas pada Piala Eropa 2024, meskipun namanya kini tidak masuk dalam daftar wasit untuk Piala Dunia 2026.
Laga final ini menjadi tonggak sejarah baru bagi Siebert karena menjadi momen pertama dalam kariernya untuk memimpin partai puncak kompetisi tertinggi antarklub Eropa tersebut.
Dalam laga ini, PSG lebih diunggulkan dan berambisi menjadi tim kedua dalam sejarah yang mampu mempertahankan trofi Liga Champions secara berturut-turut. Di sisi lain, Arsenal mengusung misi terhindar dari kontroversi perwasitan kelam seperti final tahun 2006 silam, saat kiper Jens Lehmann dikartu merah dan mereka takluk 1-2 dari Barcelona.
Arsenal memiliki modal kepercayaan diri tinggi karena belum menerima satu pun kartu merah sepanjang musim ini serta mencatatkan rekor bagus saat dipimpin oleh Siebert. Tercatat, Siebert memimpin kemenangan 1-0 Arsenal atas Sporting CP di perempat final dan kemenangan 1-0 atas Atletico Madrid di semifinal, sementara PSG baru sekali dipimpin Siebert saat bermain imbang 0-0 melawan Athletic Club di fase liga.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow