Berikut Alasan Eka Putra Noho Serahkan Palu Sidang Kepada Pimpinan Dprd Lainnya!

Smallest Font
Largest Font

Beranda Parlemen DPRD Kab. Boalemo Berikut Alasan Eka Putra Noho Serahkan Palu Sidang Kepada Pimpinan Dprd Lainnya!

Ulanda.id – Di tengah memuncaknya tensi politik dalam Rapat Paripurna ke-43 DPRD Kabupaten Boalemo, Ketua DPRD Eka Putra Noho mengambil keputusan yang tidak banyak diperkirakan. Ketika lima fraksi secara terbuka menyatakan menolak dirinya memimpin jalannya sidang, ia tidak memilih mempertahankan kewenangan yang melekat pada jabatannya. Sebaliknya, ia menyerahkan palu sidang kepada Wakil Ketua II DPRD Boalemo, Husain Etango, agar agenda paripurna tetap dapat dilanjutkan.

Bagi sebagian orang, langkah tersebut mungkin dipandang sebagai bentuk kompromi politik. Namun bagi Eka Putra Noho, keputusan itu merupakan bentuk tanggung jawab moral terhadap masyarakat Boalemo yang menaruh harapan besar kepada DPRD sebagai lembaga yang harus memastikan roda pemerintahan tetap berjalan.

Dalam situasi tersebut, Eka sebenarnya memiliki kewenangan sebagai pimpinan DPRD untuk menunda bahkan menghentikan jalannya rapat apabila syarat pelaksanaan sidang dinilai tidak terpenuhi. Pilihan itu sah secara kelembagaan dan memiliki dasar dalam mekanisme persidangan.

Namun kewenangan tersebut tidak digunakannya.

Ia memilih mengesampingkan ego politik dan menyerahkan kepemimpinan sidang kepada wakil ketua agar pembahasan agenda strategis daerah tidak terhenti. Keputusan itu diambil dengan pertimbangan bahwa hasil rapat paripurna berkaitan langsung dengan kepentingan masyarakat, mulai dari keberlanjutan program pembangunan hingga pelayanan publik yang dijalankan pemerintah daerah.

APBD Perubahan 2025: Banggar dan OPD Boalemo Verifikasi Ulang Kebutuhan Strategis

Jika sidang gagal dilaksanakan atau ditunda tanpa kepastian, sejumlah agenda pemerintahan yang membutuhkan persetujuan DPRD berpotensi mengalami keterlambatan. Dampaknya tidak hanya dirasakan pemerintah daerah, tetapi juga masyarakat yang menunggu realisasi berbagai program pembangunan dan pelayanan.

Karena itu, menurut sejumlah pihak, sikap yang diambil Ketua DPRD menunjukkan bahwa kepentingan publik ditempatkan di atas kepentingan pribadi maupun kepentingan politik sesaat.

Keputusan tersebut juga dinilai menjadi bentuk komitmen menjaga hubungan kelembagaan antara DPRD dan Pemerintah Kabupaten Boalemo. Sebab, harmonisasi antara legislatif dan eksekutif merupakan salah satu syarat penting agar roda pemerintahan dapat berjalan secara efektif.

Apabila saat itu Eka memilih mempertahankan posisinya sebagai pimpinan sidang dan memaksakan hak yang dimilikinya sebagai Ketua DPRD, bukan tidak mungkin rapat paripurna berakhir tanpa keputusan. Kondisi tersebut berpotensi memperpanjang konflik politik di internal DPRD dan berdampak terhadap jalannya pemerintahan daerah.

DPRD Boalemo Soroti Tiga Poin Krusial di RDP Komisi I: Dari Sinergi Kelembagaan hingga Perpres Perjalanan Dinas

Yang menjadi taruhan bukan sekadar siapa yang memimpin sidang, tetapi bagaimana wajah pemerintahan Kabupaten Boalemo dipersepsikan di mata masyarakat ketika lembaga legislatif dan eksekutif tidak mampu menjalankan agenda-agenda strategis secara bersama-sama.

Saat ditemui usai dinamika rapat tersebut, Eka Putra Noho menepis anggapan bahwa polemik di DPRD berpengaruh terhadap hubungannya dengan Pemerintah Kabupaten Boalemo.

Ia memastikan komunikasi dan hubungan dengan Bupati maupun Wakil Bupati Boalemo tetap berjalan dengan baik.

“Hubungan saya dengan Bupati dan Wakil Bupati baik-baik saja. Tidak ada persoalan. Yang terpenting bagi saya adalah bagaimana pemerintahan tetap berjalan dan masyarakat tidak menjadi korban dari dinamika politik yang terjadi di DPRD,” ujar Eka kepada media.

Pernyataan itu sekaligus mempertegas bahwa dinamika yang terjadi di internal DPRD tidak boleh diterjemahkan sebagai keretakan hubungan antarlembaga. Menurut Eka, DPRD dan pemerintah daerah memiliki tanggung jawab yang sama, yakni memastikan pelayanan kepada masyarakat tetap berlangsung tanpa hambatan.

Ia menilai perbedaan pandangan dalam politik merupakan sesuatu yang wajar dalam sistem demokrasi. Namun perbedaan tersebut tidak boleh menghambat penyelenggaraan pemerintahan maupun mengorbankan kepentingan masyarakat.

Karena itu, ia berharap seluruh unsur pimpinan dan anggota DPRD dapat kembali membangun komunikasi yang konstruktif agar berbagai agenda pembangunan daerah dapat berjalan sesuai harapan masyarakat.

Bagi Eka, jabatan Ketua DPRD bukan semata-mata soal memegang palu sidang, melainkan amanah untuk memastikan lembaga legislatif mampu menjalankan fungsinya secara optimal. Dalam kondisi tertentu, menurutnya, seorang pemimpin harus berani mengambil keputusan yang mungkin tidak menguntungkan dirinya secara politik, tetapi memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat.

Keputusan menyerahkan palu sidang menjadi salah satu contoh bahwa kepemimpinan tidak selalu diukur dari seberapa kuat seseorang mempertahankan kewenangannya, melainkan dari keberanian mengesampingkan kepentingan pribadi demi memastikan kepentingan publik tetap menjadi prioritas utama.

Di tengah dinamika politik yang masih berlangsung, sikap tersebut menjadi pesan bahwa perbedaan politik semestinya tidak menghambat pelayanan kepada masyarakat. Sebab, pada akhirnya, keberadaan DPRD maupun pemerintah daerah diukur bukan dari kerasnya perdebatan politik, melainkan dari kemampuan menghadirkan kebijakan yang memberi manfaat nyata bagi rakyat Boalemo.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed