Gabungan Politik Indonesia Suarakan Tuntutan Parlemen dalam Sejarah Pergerakan Nasional

Smallest Font
Largest Font

Gabungan Politik Indonesia atau dikenal sebagai GAPI menyuarakan tuntutan pembentukan parlemen mandiri secara tegas dalam sejarah pergerakan nasional. Koalisi partai politik zaman kolonial ini bangkit memimpin perlawanan diplomasi setelah pemerintah kolonial Hindia Belanda resmi menolak Petisi Sutardjo pada tahun 1938.

Langkah penolakan dari pihak Belanda tersebut memicu kekecewaan mendalam di kalangan tokoh lokal. Kondisi ini yang menjadi latar belakang terbentuknya organisasi GAPI sebagai wadah pemersatu kekuatan politik di tanah air.

Badan perserikatan ini resmi berdiri pada tanggal 21 Mei 1939 atas prakarsa Muhammad Husni Thamrin. Organisasi tersebut berhasil menghimpun berbagai partai politik besar berbasis kebangsaan maupun keagamaan pada masa itu.

Organisasi yang Mengguncang Indonesia Dari Budi Utomo sampai GAPI | donacia sianturi

Daftar Partai Pendiri dan Struktur Organisasi GAPI

Pembentukan koalisi besar ini melibatkan deretan organisasi politik yang aktif dalam pergerakan kemerdekaan. Penyatuan visi ini bertujuan untuk memperkuat posisi tawar masyarakat bumiputera di hadapan pemerintah kolonial Belanda.

Berikut adalah daftar partai politik yang tergabung di dalam federasi GAPI:

  • Partai Indonesia Raya (Parindra)
  • Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo)
  • Persatuan Partai Katolik Indonesia (PPKI)
  • Partai Islam Indonesia (PII)
  • Partai Perserikatan Nasional Indonesia (PPNI)
  • PSII Klasikal Sekongkol

Kepemimpinan organisasi ini dijalankan oleh sebuah komite manajemen yang diisi oleh tokoh-tokoh sentral pergerakan. Struktur kepemimpinan awal GAPI tercatat dalam tabel berikut:

Struktur Pimpinan Pusat Gabungan Politik Indonesia
Jabatan PimpinanNama Tokoh PergerakanAsal Partai Politik
Ketua / SekretarisAbikoesno TjokrosoejosoPSII
Anggota Dewan pimpinanMuhammad Husni ThamrinParindra
Anggota Dewan PimpinanMr. Amir SjarifuddinGerindo

Latar Belakang dan Tujuan Pembentukan Parlemen

Masyarakat sering mencari tahu melalui mesin pencari mengenai "mengapa petisi sutardjo ditolak belanda" yang memicu lahirnya gerakan ini. Penolakan tersebut terjadi karena Belanda menilai bangsa Indonesia belum siap secara mandiri untuk mengelola pemerintahan sendiri.

Kondisi politik global yang memanas menjelang Perang Dunia II turut mendorong para tokoh mempercepat konsolidasi. Publik juga kerap mengajukan pertanyaan seperti "apa tujuan didirikannya GAPI" di tengah situasi genting tersebut.

Tujuan utama dari pendirian organisasi ini meliputi tiga poin krusial bagi masa depan bangsa. Poin-poin tersebut mencakup:

  1. Menuntut pembentukan parlemen yang anggotanya dipilih langsung oleh rakyat (Indonesia Berparlemen).
  2. Menuntut adanya pemerintahan yang bertanggung jawab langsung kepada rakyat secara demokratis.
  3. Mewujudkan persatuan aksi seluruh partai politik dalam memperjuangkan nasib bangsa.

Isi Manifesto GAPI 20 September 1939

Ketegangan internasional akibat pecahnya Perang Dunia II di Eropa mendorong organisasi ini mengambil sikap tegas melalui jalur hukum dan politik. GAPI mengeluarkan pernyataan sikap penting yang dikenal luas sebagai Manifesto GAPI pada tanggal 20 September 1939.

Dokumen sejarah tersebut berisi seruan kepada pemerintah kolonial Belanda dan seluruh rakyat Indonesia agar bekerja sama menghadapi ancaman perang. GAPI menegaskan bahwa kerja sama tersebut hanya bisa terwujud jika rakyat diberikan hak penuh dalam pemerintahan.

Manifesto tersebut mendesak pembentukan sebuah parlemen sejati yang anggotanya dipilih dari dan oleh rakyat. Selain itu, pimpinan departemen pemerintahan harus mulai diserahkan kepada perwakilan masyarakat lokal secara bertahap.

Semboyan terkenal "Indonesia Berparlemen" kemudian digelorakan di seluruh pelosok negeri untuk mencari dukungan massa. GAPI juga membentuk Kongres Rakyat Indonesia (KRI) untuk memperluas jangkauan gerakan diplomasi ini ke tingkat akar rumput.

Perjuangan diplomasi keras ini terus berjalan hingga kedatangan pasukan Jepang pada tahun 1942 yang menghentikan seluruh aktivitas politik organisasi di Indonesia. Catatan perjuangan Gabungan Politik Indonesia kini tetap tersimpan rapi sebagai bagian penting dari lini masa kemerdekaan bangsa.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed