Mikel Arteta Bawa Arsenal Juara Premier League Setelah Penantian Panjang
Arsenal resmi dinobatkan sebagai juara Premier League setelah bertahun-tahun mengalami kegagalan tipis dan tekanan tanpa henti. Gelar ini menyelesaikan proyek pembangunan ulang yang panjang di kubu The Gunners. Misi Arsenal mengembalikan kejayaan memakan waktu yang lama dan proses yang panjang.
Seperti dikutip dari Bola, The Gunners butuh waktu hingga 22 tahun untuk mewujudkan misi besar tersebut. Makna keberhasilan ini jauh melampaui trofi semata. Tim Gudang Peluru tidak membeli kesuksesan instan, melainkan menyelesaikan proyek rekonstruksi selama enam setengah tahun di bawah pelatih Mikel Arteta.
Arteta mewarisi ruang ganti yang terpecah dan basis suporter yang kehilangan koneksi. Selain itu, klub juga terus menjauh dari level elite Eropa setiap musimnya.
Pelatih asal Spanyol tersebut bertahan menghadapi kritik publik, tekanan internal, hingga kekalahan memalukan. Namun, ia tetap berjalan dan akhirnya memberikan gelar Premier League pertama Arsenal sejak 2004. Ketika Arteta datang dari Manchester City pada Desember 2019, Arsenal berada dalam kondisi rusak secara struktural, taktik, dan emosional. Hal ini terjadi setelah kehilangan identitas di akhir era Arsene Wenger dan kegagalan era Unai Emery.
Kontrak mahal menumpuk, perekrutan pemain tidak jelas arah, dan standar di ruang ganti menurun drastis. Arsenal bahkan finis di posisi kedelapan pada musim 2019/2020 dan 2020/2021. Bulan-bulan pertama Arteta terasa sangat berat. Arsenal menelan kekalahan dari Burnley, Wolves, dan Aston Villa sebelum terpuruk ke posisi ke-15 klasemen pada Desember 2020 hingga muncul seruan pemecatan.
Slogan "Trust the Process" menjadi bahan lelucon fans rival, sementara Arteta dijuluki "cone man" karena pernah menjadi asisten Pep Guardiola. Namun, Stan Kroenke dan Josh Kroenke tetap mendukung Arteta secara publik dan finansial. Pada fase ini, Arteta fokus pada disiplin dan budaya tim dengan melepas pemain senior. Pemain seperti Mesut Ozil, Pierre-Emerick Aubameyang, Nicolas Pepe, Alexandre Lacazette, dan Shkodran Mustafi resmi dilepas.
Fase Kedua: Membangun Kembali Identitas
Setelah budaya ruang ganti mulai berubah, Arsenal masuk ke fase kedua. Mereka mulai membangun inti skuad muda dan ambisius yang bisa berkembang bersama.
Martin Odegaard, Ben White, Aaron Ramsdale, Gabriel Magalhaes, William Saliba, dan Thomas Partey menjadi pilar tim baru. Sementara itu, Bukayo Saka, Gabriel Martinelli, dan Emile Smith Rowe muncul sebagai simbol masa depan. Banyak transfer tersebut awalnya mendapat kritik besar dari publik.
Ramsdale diejek setelah terdegradasi, harga transfer White dipertanyakan, dan Odegaard dianggap sebagai pemain buangan Real Madrid. Namun, Arteta menilai kepribadian dan mentalitas sama pentingnya dengan bakat. Ia juga membangun ulang sisi emosional tim lewat metode motivasi unik di pusat latihan.
Meski begitu, kemunduran tetap terjadi bagi The Gunners. Arsenal gagal finis di posisi empat besar pada musim 2021/2022, yang memunculkan lagi tudingan bahwa Arteta kurang pengalaman di level elite.
Fase Ketiga: Kembali ke Liga Champions
Tahap berikutnya dari proyek Arteta berfokus mengembalikan Arsenal ke Liga Champions. Langkah ini penting bagi pertumbuhan finansial klub sekaligus kredibilitas jangka panjang di hadapan tim-tim terbaik Eropa. Walau Arsenal akhirnya kalah dalam persaingan gelar Premier League musim 2022/2023 dari Manchester City, musim itu membuktikan perkembangan tim dengan membawa mereka kembali ke Liga Champions.
Musim-musim berikutnya membawa luka serupa untuk klub. Arsenal kembali finis di bawah Manchester City dan Liverpool meski memainkan salah satu sepak bola terbaik di Eropa. Para pengkritik melabeli mereka "bottlers", sementara pundit mempertanyakan kontrol taktik obsesif Arteta. Kegagalan di turnamen piala dan kekalahan krusial membuat posisi Arteta terus disorot.
Bahkan sempat muncul laporan bahwa masa depan Arteta bisa dievaluasi jika Arsenal kembali menutup musim tanpa trofi. Namun bukannya hancur secara emosional, Arsenal justru menjadi lebih tangguh secara mental.
Fase Keempat: Membangun Tim Pemenang
Arsenal akhirnya menjadi tim yang komplet ketika Arteta sadar sepak bola indah saja tidak cukup untuk mengalahkan Manchester City. Klub kemudian berinvestasi besar untuk menambah fisik, kontrol permainan, dan ketajaman skuad.
David Raya menggantikan Ramsdale untuk membawa ketenangan di lini belakang. Kai Havertz, Jurrien Timber, dan Mikel Merino juga datang menambah fleksibilitas serta kekuatan fisik tim. Declan Rice membawa kepemimpinan di lini tengah, sementara Martin Zubimendi menghadirkan kecerdasan taktik.
Kedalaman skuad meningkat dengan hadirnya Viktor Gyokeres, Eberechi Eze, Noni Madueke, Piero Hincapie, Cristhian Mosquera, Christian Norgaard, dan Kepa Arrizabalaga. Di bawah arahan Nicolas Jover, Arsenal juga menjadi salah satu tim bola mati paling berbahaya di Eropa. Mereka sukses mencetak rekor 18 gol dari situasi set-piece selama musim juara.
Secara defensif, Arsenal berkembang menjadi tim paling komplet di liga. Hal ini berkat pressing agresif, organisasi permainan yang rapat, serta kemampuan mendominasi penguasaan bola.
Fase Kelima: Menyabet Trofi
Fase terakhir proyek Arteta selalu tentang memenangkan trofi besar. Tekanan menjadi sangat besar setelah bertahun-tahun nyaris juara karena apa pun selain trofi mulai dianggap sebagai kegagalan. Kini Arsenal akhirnya berhasil melewati garis finis secara meyakinkan. Gelar Premier League ini menjadi pembuktian bagi semua pihak yang tetap percaya selama masa-masa tergelap proyek pembangunan ulang.
Mulai dari pemilik klub yang menolak mengganti pelatih hingga suporter yang bertahan semua akhirnya mendapat hadiah atas kesabaran mereka. Hubungan Josh Kroenke dan Arteta menjadi salah satu elemen terpenting dalam kebangkitan ini. Sang pelatih kini berkembang menjadi salah satu figur paling berpengaruh dalam sejarah modern klub. Kepercayaan pemilik klub akhirnya dibayar lunas lewat gelar Premier League pertama sejak 2004.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow