Petani Boliyohuto Terancam Gagal Panen Akibat Krisis Air Irigasi
Ancaman gagal panen saat ini sedang membayangi para petani padi di Kecamatan Boliyohuto, Kabupaten Gorontalo. Pasokan air irigasi yang terus menyusut akibat musim kemarau berkepanjangan memicu kekhawatiran yang mendalam. Jika situasi tanpa hujan ini terus bertahan hingga dua pekan mendatang, ribuan hektare lahan persawahan di wilayah tersebut diperkirakan bakal mengalami puso.
Kondisi di lapangan dinilai sudah memasuki fase yang sangat kritis. Dilansir dari Ulanda, sebagian besar tanaman padi milik petani setempat kini telah memasuki usia 40 hingga 50 Hari Setelah Tanam (HST). Periode ini merupakan fase krusial yang menentukan keberhasilan produksi total.
Pada umur tersebut, padi mulai memasuki tahap bunting muda atau pembentukan bulir yang membutuhkan suplai air secara stabil. Defisit air pada momen ini berisiko menurunkan produktivitas secara drastis.
“Kalau kemarau masih berlanjut sampai dua minggu ke depan, kami khawatir sebagian besar petani di Boliyohuto akan mengalami gagal panen. Saat ini tanaman berada pada fase yang sangat membutuhkan air,” ujar Gunawan, S.H., Ketua Gapoktan Mulya Jaya, Sabtu (4/7/2026). Menurut Gunawan, penurunan debit air membuat saluran irigasi di beberapa titik mulai mengering. Hal tersebut mengakibatkan para petani setempat kesulitan dalam memenuhi kebutuhan pengairan lahan persawahan mereka.
Kini pihak petani hanya dapat menggantungkan harapan pada curah hujan yang turun dalam waktu dekat atau intervensi cepat pemerintah. Langkah darurat dinilai sangat dibutuhkan untuk menghadirkan sumber air alternatif. “Kalau tidak ada hujan dan tidak ada intervensi pemerintah, tentu hasil panen yang selama ini diharapkan petani akan sangat sulit tercapai,” kata Gunawan.
Dampak dari ancaman kekeringan ini diprediksi tidak hanya merugikan pendapatan petani secara ekonomi. Masalah ini juga berpotensi mengganggu stabilitas total produksi beras di Kabupaten Gorontalo. Kecamatan Boliyohuto selama ini memegang peran penting sebagai salah satu kawasan sentra produksi padi.
Wilayah ini menjadi salah satu penopang utama bagi ketahanan pangan daerah setempat. Pemerintah Kabupaten Gorontalo beserta Pemerintah Provinsi Gorontalo didesak untuk segera meluncurkan kebijakan darurat di lapangan. Langkah antisipasi dini perlu berjalan tanpa harus menunggu tanaman padi telanjur rusak.
Beberapa tindakan yang mendesak direalisasikan meliputi pengadaan pompa air, normalisasi saluran irigasi yang dangkal, dan distribusi air ke sawah. Penyusunan skema penanganan jangka panjang juga diperlukan jika kemarau berlangsung lama.
“Yang dibutuhkan petani saat ini adalah tindakan cepat. Bantuan pompa air, distribusi air, dan normalisasi saluran irigasi harus segera dilakukan sebelum kondisi semakin parah,” ujar Gunawan. Penyelamatan sektor agraria ini dinilai menyangkut hajat hidup orang banyak, bukan sekadar urusan petani.
Penurunan produksi padi secara masif ditakutkan bakal memicu gejolak pasokan pangan di masyarakat luas. Gunawan mengingatkan bahwa efek domino dari gagal panen massal akan memukul berbagai sektor. Kerugian bakal dirasakan langsung oleh petani, pelaku usaha tani, hingga masyarakat selaku konsumen akhir.
Pemerintah diharapkan segera memprioritaskan isu kekeringan ini sebelum wilayah Gorontalo memasuki puncak musim kemarau. Selain itu, pembenahan total sistem infrastruktur pengairan dinilai mendesak sebagai investasi jangka panjang.
“Petani tidak meminta sesuatu yang berlebihan. Kami hanya berharap ada langkah nyata agar tanaman yang sudah dirawat selama berbulan-bulan tidak berakhir sia-sia karena kekurangan air,” tutur Gunawan.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow