Raja Isa Pertanyakan Tingginya Tensi Laga Indonesia vs Vietnam
Persaingan sengit antara Timnas Indonesia dan Vietnam kembali menyita perhatian jelang bentrokan kedua tim di Stadion Pakansari Cibinong. Laga antarnegara Asia Tenggara ini dinilai selalu menyajikan tensi tinggi di luar aspek teknis permainan.
Duel kedua negara kerap diwarnai tindakan provokasi serta intimidasi, baik secara fisik maupun verbal di dalam lapangan. Kondisi ini tampak berbeda saat Timnas Vietnam berhadapan dengan negara anggota ASEAN lainnya.
Ketika The Golden Star Warriors ditahan imbang tanpa gol oleh Singapura pada laga Piala AFF 2026 lalu, para pemain Vietnam tampil lebih tenang tanpa adanya letupan emosi atau gesekan fisik.
Fenomena perbedaan atmosfer perseteruan ini memantik perhatian mantan pelatih PSM Makassar dan Persipura Jayapura, Raja Isa Raja Akram Shah, sebagaimana dilansir dari Bola.
"Kita perlu runut ke belakang, apa penyebab laga Timnas Indonesia melawan Vietnam selalu panas. Saya kira pertemuan di Piala AFF 2026 akan menjadi satu pertandingan yang sangat menarik. Yang sudah pasti, menurut saya intensitas permainan akan menjadi enak ditonton. Secara komersial ini meningkatkan nilai turnamen," kata Raja Isa.
Juru taktik asal Malaysia tersebut menilai bahwa laga tidak hanya sebatas adu strategi antara pelatih John Herdman dan Kim Sang-sik. Unsur nonteknis diyakini bakal menjadi bumbu penyedap yang menentukan hasil akhir.
"Laga besok, sebenarnya bukan masalah taktikal atau strategi, tapi bagaimana kedua tim menggunakan kebijakan dan provokasi untuk mengatasi satu sama lain. Terutamanya Vietnam, saya yakin pasti akan melakukan beberapa hal-hal yang akan mengganggu konsentrasi lawan. Ini juga harus disadari pemain Indonesia agar tidak terpancing dan merusak misi di pertandingan ini," ujar Raja Isa.
Menurut pengamatan Raja Isa, kubu Vietnam sangat cermat dalam menentukan pemain kunci lawan yang akan dijadikan sasaran tembak provokasi guna memancing emosi.
Taktik psywar fisik ini pernah terlihat pada partai final SEA Games 2019 di Filipina. Kala itu, bek Vietnam Doan Van Hau melancarkan tekel keras kepada gelandang Indonesia, Evan Dimas.
Insiden pada menit ke-19 tersebut memaksa Evan Dimas keluar lapangan menggunakan kursi roda. Kehilangan sosok pengatur serangan membuat performa Garuda Muda goyah hingga akhirnya takluk tiga gol tanpa balas.
Menjelang pertarungan berikutnya, sejumlah pilar Skuad Garuda diingatkan untuk tetap menjaga kepala dingin saat mendapatkan tekanan dari lawan.
"Thom Haye, Marc Klok, dan Sandy Walsh harus bermain tenang. Namun, bukan berarti mereka harus pasrah dan diam, jika dapat provokasi. Saya kira Mitchell Baker juga akan jadi sasaran. Pemain Indonesia harus berani melawan, tetapi jangan emosi berlebihan," jelasnya.
Beban psikologis berada di pihak Vietnam setelah mereka gagal meraih poin penuh kala menjamu Singapura. Persiapan mental menjadi kunci utama bagi Skuad Garuda untuk meredam daya juang lawan.
"Yang harus dilakukan John Herdman untuk mengalahkan Vietnam bukan cuma soal taktikal dan strategi, tapi bagaimana membangun mental dan kebersamaan untuk fokus, untuk benar-benar kompak untuk menghadapi Vietnam," ujar Raja Isa.
"Karena Vietnam mau bermain di kandang atau bermain di luar, mereka punya DNA berperang. Negara yang berperang dengan darah. Sama juga Indonesia: merdeka untuk perang, perangnya semua berdarah," tuturnya.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow