Viking Persib Club Dukung Rencana Pencabutan Larangan Suporter Away

Smallest Font
Largest Font

Ketua Viking Persib Club (VPC) Tobias Ginanjar menyambut positif rencana Ketua PSSI Erick Thohir untuk mencabut larangan suporter tamu pada kompetisi BRI Super League 2026/2027, Rabu (8/7/2026).

Kebijakan baru tersebut dinilai bisa menjadi sarana efektif dalam mempererat silaturahmi sekaligus mendekatkan hubungan antar-kelompok suporter di Indonesia, sebagaimana dilansir dari Bola.

"Sangat menyambut baik ya kalau memang itu benar terjadi. Karena kan bagaimanapun away itu sarana silaturahmi untuk mendekatkan antar suporter sebenarnya," kata Tobias Ginanjar, Ketua Viking Persib Club.

Koordinasi yang matang antara penyelenggara, pihak keamanan, klub, dan suporter dianggap menjadi kunci utama dalam melakukan mitigasi guna mencegah potensi bentrokan.

"Karena ada aparat keamanan, ada koordinasi awal sebelum pertandingan dan lain sebagainya, kan pasti aparat keamanan punya pertimbangan lah apakah suporter tersebut boleh datang atau tidak," tutur Tobias Ginanjar.

Evaluasi terhadap aturan sebelumnya menunjukkan bahwa larangan suporter tamu tidak berjalan efektif karena para pendukung tetap memaksakan datang ke stadion.

"Jadi sebenarnya sangat baik kalau dihapus, jadi tidak dipukul rata semua tidak boleh gitu. Tapi dikembalikan kepada hubungan antar kedua suporter dan dikembalikan kepada pertimbangan dari kepolisian," tambah Tobias Ginanjar.

Langkah PSSI ini juga dinilai sejalan dengan kampanye internal VPC bertajuk "no denda" demi mengurangi beban finansial klub akibat sanksi pelanggaran regulasi.

"Jadi buat apa bikin aturan tersebut kalau memang tidak efektif gitu. Jadi sudah benar sekali kalau memang mau dicabut. Tinggal bagaimana PSSI berkoordinasi atau PT LIB, PSSI, klub, suporter saling berkoordinasi dengan pihak kepolisian untuk membuat skema away yang aman dan bisa aman buat semuanya," ungkap Tobias Ginanjar.

Catatan musim lalu menunjukkan Persib Bandung harus membayar denda hingga miliaran rupiah akibat pelanggaran suporter di kompetisi domestik maupun Asia.

"Cuma kan kalau ada larangan away bagaimanapun pasti ada denda saja, da Bobotoh mah enggak akan bisa dilarang ya untuk menonton Persib gitu," jelas Tobias Ginanjar.

Besarnya alokasi dana untuk membayar sanksi tersebut disayangkan karena seharusnya bisa dialihkan untuk membangun infrastruktur tim.

"Kita melihat di musim lalu dendanya kan miliaran ya, sangat besar. Dan kita kan berharap Persib upgrade fasilitas latihan dan sebagainya. Kan mungkin salah satu penghambat dari Persib tidak segera membuat itu mungkin salah satunya keuangan yang mungkin masih harus bayar denda dan sebagainya," ujar Tobias Ginanjar.

Terkait syarat tanggung jawab klub atas perilaku suporter, hal itu dinilai sudah menjadi kewajiban yang melekat melalui fungsi edukasi sebelum pertandingan dimulai.

"Jadi kita coba ringankan jangan sampai ada denda, tujuan kita sebenarnya supaya Persib bisa lebih cepat mewujudkan fasilitas-fasilitas latihan yang lebih baik," lanjut Tobias Ginanjar.

Aturan mengenai sanksi dan denda bagi klub yang suporternya membuat kerusuhan sudah diatur secara jelas dalam regulasi kompetisi.

"Sebenarnya memang tanpa harus ada dicabut atau enggak itu mah sudah melekat kepada klub bahwa perilaku suporter itu ada tanggung jawab juga dari klubnya. Tapi kan bentuk tanggung jawabnya berupa edukasi, berupa ya dan lain sebagainya kan sebenarnya mah udah ada aturannya," ungkap Tobias Ginanjar.

Pihak VPC menegaskan kewajiban menjaga ketertiban tersebut tidak berubah dengan ada atau tidak adanya aturan larangan laga tandang.

"Kayak misalnya ketika suporternya berulah membuat kerusuhan kan memang ada aturannya, ada denda buat klub dan lain sebagainya yang memang itu ada. Jadi sebenarnya tidak ngaruh dengan apakah ada larangan away atau tidak gitu," ucap Tobias Ginanjar.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed