BBPOM Gorontalo Temukan Penurunan Mutu Pepaya dalam Kasus Keracunan

Smallest Font
Largest Font

Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) di Gorontalo menemukan indikasi penurunan mutu pangan serta sejumlah celah sanitasi dalam investigasi kasus Kejadian Luar Biasa Keracunan Pangan (KLB-KP) di SD Negeri 11 Telaga Biru, Kabupaten Gorontalo, pada 21 Mei 2026. Hasil investigasi, pemeriksaan sarana, dan pengujian laboratorium tersebut telah disampaikan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Gorontalo melalui laporan tertanggal 29 Mei 2026, sebagaimana dilansir dari Gotimes. Sebanyak 18 siswa mengalami gejala mual, muntah, sakit perut, dan pusing setelah mengonsumsi menu Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang didistribusikan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tuladenggi.

Dugaan keterlibatan buah pepaya didasarkan pada pengujian laboratorium terhadap 17 sampel pangan dari sejumlah titik penanganan makanan, di mana hanya komponen tersebut yang menunjukkan nilai Angka Kapang Khamir (AKK) paling tinggi.

Tiga sampel pepaya yang diuji masing-masing menunjukkan angka 1,4 x 10³ koloni per gram serta 6,8 x 10⁴ koloni per gram pada dua sampel lainnya, sementara hasil pengujian nasi putih, kangkung tauge, tahu goreng, oci goreng, dan dabu-dabu dinyatakan negatif. "Hasil uji laboratorium menunjukkan bahwa komponen makanan lainnya negatif dari parameter bakteri dan racun yang diperiksa. Temuan utama justru berada pada sampel buah pepaya yang menunjukkan angka kapang dan khamir paling tinggi dibandingkan sampel pangan lainnya," demikian isi laporan investigasi BBPOM.

Data laboratorium ini selaras dengan temuan lapangan yang menunjukkan sebagian buah pepaya dalam paket makanan bertekstur lembek dan berair saat kemasan dibuka oleh guru dan siswa. Pemeriksaan langsung BBPOM terhadap fasilitas dapur SPPG Tuladenggi juga mengungkap kelemahan pengendalian mutu, seperti tidak adanya pemantauan suhu makanan matang secara rutin sejak awal tahun.

Petugas menemukan bumbu bawang putih yang telah berubah warna menjadi kehijauan di gudang bahan basah, serta celah pada tirai plastik area produksi dan pintu bongkar muat yang berpotensi menjadi jalur masuk hama. SPPG Tuladenggi tercatat pernah dikenakan penghentian sementara kegiatan (PSK) akibat kasus keracunan pada Maret 2026, lalu sempat beroperasi kembali awal Mei sebelum akhirnya kembali berstatus PSK pada 21 Mei 2026. Meskipun indikasi kuat mengarah pada buah pepaya, lembaga pengawas tersebut menyatakan bahwa penyebab pasti peristiwa keracunan ini belum dapat ditetapkan secara definitif.

"Dalam perspektif pengawasan keamanan pangan, interpretasi hasil KLB-KP perlu dilakukan secara hati-hati dan berbasis pembuktian ilmiah yang memadai, sehingga penetapan agen penyebab spesifik tidak hanya didasarkan pada satu parameter laboratorium," tulis BBPOM dalam laporannya.

BBPOM merekomendasikan penghentian sementara operasional SPPG Tuladenggi hingga seluruh tindakan perbaikan diverifikasi, termasuk penguatan sistem pengendalian mutu melalui pemantauan suhu harian dan penerapan sistem FIFO/FEFO.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed