Geliat Sepak Bola Putri Asia: Merekam Asa Generasi Muda
Kehadiran tim-tim dari negara Asia lain di Srikandi Merdeka Cup tidak hanya sebatas menyuguhkan persaingan di lapangan hijau. Di balik aksi mereka, tersimpan sepenggal cerita tentang bagaimana mereka melihat perkembangan sepak bola putri di negaranya masing-masing.
Srikandi Merdeka Cup, yang merupakan fase puncak dari Women's Soccer Trilogy yang diinisiasi Bakti Olahraga Djarum Foundation, digelar dengan melibatkan delapan timnas putri U-16 dari tujuh negara Asia.
Ada enam tim mancanegara, yaitu Hong Kong, Thailand, Arab Saudi, Malaysia, Singapura, dan Yordania. Sementara tuan rumah Indonesia melihat peluang emas dari turnamen ini dengan mengutus dua tim, yakni Garuda Pertiwi dan Putri Nusantara.
Mayoritas tim yang datang ke Kudus menjadikan Srikandi Merdeka Cup sebagai ajang pemanasan sebelum bertanding di Kualifikasi AFC U-17 2027 pada Oktober 2026. Performa tim mancanegara tersebut di turnamen sepak bola putri U-16 ini pun beragam.
Dalam dua pertandingan pertama, Arab Saudi sudah dua kali takluk dengan skor besar. Namun, ada Thailand, seperti halnya Garuda Pertiwi, yang tampil menawan dan meraih kemenangan sempurna dalam dua pertandingan pertama. Begitu pun dengan Hong Kong, Yordania, dan Singapura yang sudah meraih setidaknya satu kemenangan dari dua laga.
Perkembangan sepak bola putri di Asia terus menuju arah yang positif. Contohnya Malaysia, Thailand, dan Yordania sebagai tiga negara yang memiliki pendekatan berbeda dalam membangun ekosistem sepak bola putri. Namun, ketiganya memiliki tujuan serupa, yaitu memperluas partisipasi, menemukan talenta sejak usia muda, dan menciptakan jalur yang lebih jelas menuju level elite.
Gambaran mengenai perkembangan tersebut makin jelas ketika berbincang dengan pemain muda dari ketiga negara tersebut yang tengah berpartisipasi di Srikandi Merdeka Cup di Supersoccer Arena, Kudus, Jawa Tengah, 14 hingga 23 Agustus 2026.
Keisha Adeliena binti Muhammad Khalid dari Malaysia, Miricah Shealagh Murdoch asal Thailand, dan pemain muda Yordania, Maria Abdullah Mohammad Almosa, mengungkapkan perkembangan sepak bola putri di negara mereka.
Ketiganya memberikan perspektif dari lapangan mengenai perubahan yang mereka alami dan harapan terhadap masa depan sepak bola putri di negara masing-masing.
Malaysia tengah berupaya memperluas basis pemain perempuan melalui program akar rumput dan pembentukan jalur pembinaan yang lebih terstruktur.
Dalam F:30 Strategic Plan 2023-2026, Federasi Sepak Bola Malaysia (FAM) menempatkan sepak bola putri sebagai salah satu fokus pengembangan, termasuk meningkatkan jumlah perempuan yang bermain sepak bola, memperkuat program grassroots, menciptakan jalur dari level akar rumput menuju elite, serta meningkatkan kualitas liga dan klub.
FAM juga memiliki program grassroots yang menekankan sepak bola harus dapat dimainkan semua orang tanpa memandang usia maupun gender. Program seperti SupaRimau diarahkan untuk meningkatkan standar akademi serta memberikan lingkungan yang aman bagi anak-anak untuk bermain dan mengembangkan bakat.
Upaya itu juga mulai menyentuh pemain perempuan usia muda. Pada 2025, program kolaborasi antara FAM dan mitra strategis melibatkan 167 talenta muda berusia 6 hingga 16 tahun. Untuk kali pertama, ada pemenang dari kategori putri yang mendapatkan kesempatan mengikuti pelatihan dan mentoring bersama.
Bagi Keisha Adeliena binti Muhammad Khalid, yang merupakan kapten tim Malaysia di Srikandi Merdeka Cup, perkembangan itu terasa langsung dari pengalamannya.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow