Pemahat Bali Ida Bagus Ketut Lasem Ungkap Filosofi Trofi Piala Presiden

Smallest Font
Largest Font

Pemahat asal Desa Kemenuh, Gianyar, Bali, Ida Bagus Ketut Lasem mengungkapkan filosofi mendalam di balik piala turnamen sepak bola yang kini diraih Persebaya Surabaya, sebagaimana dilansir dari Bola pada Rabu (5/8/2026).

Seniman berusia 86 tahun tersebut mengukir kayu jati bermodal Rp25 juta sejak 2015 hingga akhirnya dipercantik dengan ornamen perak dan batu Nusantara. Persebaya membawa pulang trofi ini usai mengalahkan Persib Bandung lewat adu penalti 1-1 (5-6).

"Dari sekian banyak pemahat di Bali, akhirnya saya yang ditunjuk untuk membuat trofi Piala Presiden," kata Ida Bagus Ketut Lasem, pemahat trofi Piala Presiden.

Trofi buatan Ida Bagus sempat dipercantik oleh seniman asal Yogyakarta, Surya Aditya Putra pada edisi 2017. Kembalinya trofi tersebut ke wilayah Gianyar memberikan kebahagiaan tersendiri bagi pemahat kelahiran 31 Desember 1940 itu.

"Dia kembali ke rumahnya untuk sementara," ujar Ida Bagus Ketut Lasem, pemahat trofi Piala Presiden.

Desain unik berbahan dasar kayu jati serta ornamen khas daerah tersebut menuai pujian dari pemain yang berlaga di lapangan.

"Sekarang saya melihat trofi Piala Presiden sudah semakin cantik. Ini untuk kebaikan bersama dan apa yang dilakukan untuk trofi tersebut, masing-masing pasti ada tujuan seninya," ucap Ida Bagus Ketut Lasem, pemahat trofi Piala Presiden.

Penjaga gawang Persebaya Surabaya, Reza Arya Pratama, turut mengagumi keindahan karya seni yang menjadi simbol juara tersebut.

"Sangat unik dibuat dari kayu dan langsung dibuat oleh seniman Bali ya?" kata Reza Arya Pratama, penjaga gawang Persebaya Surabaya.

Mantan pemain PSM Makassar tersebut menilai hiasan pada piala mencerminkan identitas kebudayaan nasional yang sangat tinggi.

"Top ini pialanya. Ada ornamen Bali dan Indonesia," ujar Reza Arya Pratama, penjaga gawang Persebaya Surabaya.

Ida Bagus Lasem menegaskan bahwa pembuatan karya tersebut menyimbolkan ajaran budaya Nusantara yang memberikan kebahagiaan bagi masyarakat luas.

"Dari filosofi ajaran Hindu dan Budaya Nusantara ini, bisa dilihat Piala Presiden menjadi panggung terbaik untuk orang lain. Seluruh masyarakat bisa senang, bahagia, dan gembira," kata Ida Bagus Ketut Lasem, pemahat trofi Piala Presiden.

Dampak ekonomi dari gelaran turnamen turut dirasakan langsung oleh para pelaku UMKM di sekitar kawasan Stadion Kapten I Wayan Dipta. Ni Ketut Sudianti menyebut dagangannya tetap laris dibeli petugas keamanan serta mendapat bantuan dari pejabat turnamen.

"Astungkara diberikan rezeki sama bapak. Diborong 40 rice bowl untuk dibagi-bagikan. Kami juga diberikan tips tambahan," kata Ni Ketut Sudianti, pelaku UMKM Stadion Dipta.

Kenaikan penjualan yang signifikan juga dialami oleh perwakilan usaha kuliner Kosta Kopi, Mita Kusuma Dewi, lantaran antrean pembeli yang melonjak sejak babak semifinal.

"Saya pikir tidak seramai ini. Lumayan banget kita kerjanya sampai harus tutup orderan sementara. Kamu senang juga dapat rezeki tambahan," ujar Mita Kusuma Dewi, perwakilan Kosta Kopi.

Bagi seniman senior Bali tersebut, olahraga sepak bola menyimpan refleksi mendalam mengenai realitas kehidupan manusia.

"Sepak bola itu pelajaran hidup. Ada saatnya kita ditendang, ada saatnya kita sebagai manusia disanjung," kata Ida Bagus Ketut Lasem, pemahat trofi Piala Presiden.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed