Arsenal Incar Trofi Liga Champions setelah Menjuarai Premier League
Arsenal membidik sejarah baru untuk meraih gelar juara Liga Champions pertama kalinya saat menghadapi Paris Saint-Germain (PSG) dalam laga final di Budapest pada Sabtu (30-5-2026).
Klub sepak bola asal London Utara tersebut berambisi menutup musim 2026 dengan raihan gelar ganda, seperti dilansir dari Bola.
Keberhasilan memutus kutukan posisi runner-up selama tiga musim beruntun dan menjuarai Premier League setelah penantian 22 tahun menjadi modal penting bagi mentalitas skuad asuhan Mikel Arteta.
Lini pertahanan Arsenal mencatatkan rekor terbaik di kompetisi domestik dengan hanya kebobolan 26 gol dari 37 pertandingan, sementara penjaga gawang David Raya sukses menyabet penghargaan Golden Glove.
Meski demikian, tantangan besar telah menanti di partai puncak karena PSG hadir sebagai juara bertahan yang memiliki barisan penyerang tangguh seperti Ousmane Dembele dan Khvicha Kvaratskhelia di bawah arahan Luis Enrique.
Bek tengah Arsenal, William Saliba, menegaskan bahwa pencapaian di kompetisi domestik tidak membuat timnya cepat berpuas diri sebelum laga final bergulap.
"Itu akan sangat berarti. Sekarang kami sudah memulai dengan Premier League, ini gelar pertama saya, jadi saya senang. Tapi, saya belum puas. Saya ingin lebih," kata Saliba.
Pemain belakang berkebangsaan Prancis tersebut menambahkan bahwa momentum di kompetisi Eropa merupakan kesempatan yang sangat krusial bagi seluruh tim.
"Dan ada peluang besar pekan depan di Liga Champions, jadi kami harus memberikan sedalanya," imbuh Saliba.
Mantan pemain pinjaman Nice dan Marseille itu menyatakan adanya perubahan psikologis yang positif di dalam internal tim setelah mereka dipastikan mengunci takhta juara liga.
"Ya, tentu saja itu mengubah sesuatu. Ketika Anda memenangi Premier League, ketika Anda memenangi liga, Anda punya lebih banyak kepercayaan diri sebelum menghadapi final," ujar Saliba.
Evaluasi terhadap performa tim pada periode sebelumnya dinilai menjadi bahan bakar utama bagi konsistensi performa para pemain di musim ini.
"Musim lalu kami finis kedua, tapi bahkan setelah finis kedua, kami tetap punya mentalitas untuk terus melangkah dan akhirnya itu terbayar," ucap Saliba.
Kegagalan di masa lalu dipandang sebagai proses pendewasaan yang membuat tim berhak mendapatkan apresiasi tertinggi atas kerja keras mereka.
"Kami tidak menyerah, kami layak mendapatkan gelar itu, dan musim depan kami akan kembali lagi untuk mencoba menang," tutur Saliba.
Atmosfer positif yang menyelimuti staf dan pemain menjelang laga final dianggap menguntungkan posisi Arsenal dalam persiapan taktik mereka.
"Ketika Anda memenangkan trofi, semuanya jadi positif. Semua orang dalam suasana hati bagus, staf, pemain. Lebih baik memenangi liga sebelum final Liga Champions karena sekarang semua orang bahagia," ungkap Saliba.
Walaupun Arsenal masih menyisakan satu pertandingan sisa di kompetisi Premier League, fokus mereka kini sudah sepenuhnya terbagi untuk menghadapi klub raksasa Prancis.
"Apa pun hasil laga terakhir nanti, kami tetap juara. Setelah itu kami punya satu pekan untuk mempersiapkan diri menghadapi Paris," kata Saliba.
Mengenai reputasi lini serang lawan, pemain berusia 25 tahun tersebut mengaku sangat antusias untuk menguji ketangguhan barisan pertahanan timnya.
"Kami punya pertahanan terbaik musim ini, dan ketika Anda yang terbaik, Anda ingin melawan yang terbaik," kata Saliba.
Pertemuan dengan para penyerang kelas dunia di Budapest dipandang sebagai momentum pembuktian kualitas lini belakang The Gunners.
"Kami senang menghadapi penyerang seperti mereka pekan depan dan saya berharap kami memenangkan duel itu," katanya Saliba.
Status PSG yang lebih diunggulkan oleh banyak pihak justru dinilai wajar mengingat rekam jejak lawan sebagai juara bertahan di kompetisi tertinggi antarklub Eropa tersebut.
"Wajar mereka jadi favorit karena mereka memenangi Liga Champions musim lalu dan sekarang kembali ke final. Kami harus bertarung dan kalau ingin mengubah pandangan itu, kami harus menang," kata Saliba.
Pemain yang sempat kesulitan menembus tim utama ini juga merefleksikan dinamika kariernya sejak awal bergabung dengan Arsenal.
"Itu perjalanan panjang, naik turun, tapi sekarang saya sangat bahagia," ujar Saliba.
Pengalaman berpindah-pindah klub sebagai pemain pinjaman diakui membentuk mentalitasnya hingga mampu tampil reguler selama empat tahun terakhir.
"Saya tidak selalu bahagia ketika dipinjamkan dan tidak bermain, tapi itu bagian dari proses," tutur Saliba.
Keyakinan kuat untuk merengkuh trofi domestik mulai muncul di benak skuad sejak bulan Maret, khususnya setelah melewati adangan dari tim-tim berat.
"Saya tahu memenangkan Premier League akan sulit. Setiap pertandingan di liga ini sangat berat, bahkan melawan tim papan bawah," kata Saliba.
Kemampuan bangkit dari hasil minor saat menghadapi kompetitor terdekat seperti Manchester City menjadi titik balik krusial bagi kesuksesan Arsenal.
"Kami terus melangkah dan percaya kepada diri sendiri, bahkan setelah kalah dari Manchester City, dan sekarang kami juara," ujarnya Saliba.
Setelah merampungkan misi di level klub, fokus sang pemain akan langsung beralih ke turnamen internasional bersama tim nasional Prancis.
"Selama empat tahun saya selalu menjadi starter di Arsenal dan sekarang saya menutup musim dengan gelar Premier League. Tapi, kami punya sesuatu yang lebih besar pekan depan," tuturnya Saliba.
Target besar berikutnya adalah menampilkan performa maksimal di ajang Piala Dunia 2026 yang akan bergulir setelah kompetisi klub selesai.
"Kami juga akan menghadapi Piala Dunia. Pertama, ada final bersama Arsenal, lalu Piala Dunia. Ini saat yang tepat untuk menunjukkan kemampuan saya dan mengeluarkan semua yang saya punya," imbuh Saliba.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow