Gianni Infantino Dapat Dukungan CAF, Suara Afrika Belum Tentu Solid
Gianni Infantino dapat dukungan Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) , tetapi 54 suara Afrika di pemilihan presiden FIFA belum tentu untuknya.
Gianni Infantino, Presiden FIFA, melambaikan tangan kepada penonton sebelum pertandingan babak 16 besar Piala Dunia Antarklub 2025 antara CR Flamengo dan FC Bayern München di Hard Rock Stadium pada 29 Juni 2025 di Miami Gardens, Florida. (Michael Reaves/Getty Images via AFP)
Bola.com, Jakarta - Dukungan Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) kepada Gianni Infantino belum tentu membuat seluruh negara Afrika memberikan suara kepada Presiden FIFA dalam pemilihan mendatang.
Di tengah polemik yang mengancam posisi Infantino, CAF telah menyatakan dukungan kepada pria asal Swiss-Italia itu.
Sikap tersebut membuat CAF berbeda dengan tiga badan sepak bola kontinental lainnya yang meminta Infantino mempertanggungjawabkan rencana komersialisasi hak Piala Dunia yang akhirnya dibatalkan.
Meski begitu, dukungan CAF tidak otomatis berarti Infantino akan mendapatkan suara dari 54 anggota CAF. Pemilihan Presiden FIFA dijadwalkan berlangsung pada 17 Maret di Kongres FIFA di Maroko.
Infantino cukup populer di kalangan asosiasi sepak bola Afrika karena selama hampir satu dekade masa kepemimpinannya, bantuan FIFA untuk negara-negara di benua tersebut meningkat secara signifikan.
Namun, sejarah menunjukkan dukungan resmi CAF tidak selalu diikuti para anggotanya ketika pemilihan berlangsung.
Pada 1998, CAF pernah bersekutu dengan UEFA untuk mendukung Presiden UEFA saat itu, Lennart Johansson, dalam pemilihan Presiden FIFA.
Namun, mayoritas asosiasi sepak bola Afrika justru memberikan suara kepada pesaingnya, Sepp Blatter.
Rekam Jejak CAF
Presiden FIFA Gianni Infantino berbicara dalam konferensi pers di Qatar National Convention Center, Doha, Sabtu, 19 November 2022, menjelang Piala Dunia Qatar 2022. Infantino membalas kritik terhadap catatan hak asasi manusia Qatar. (COFFRINI KAIN / AFP)
Empat tahun kemudian, ketika Presiden CAF, Issa Hayatou, menantang Blatter, mayoritas negara Afrika kembali memilih Blatter hingga pria asal Swiss itu meraih kemenangan telak dan mempertahankan jabatannya.
Situasi serupa terjadi ketika Infantino pertama kali terpilih sebagai Presiden FIFA pada 2016.
CAF saat itu mendukung Sheikh Salman bin Ibrahim Al Khalifa dari Bahrain, tetapi banyak negara Afrika justru membantu Infantino memenangi pemilihan pada putaran kedua.
Anggota CAF juga pernah mengambil sikap berbeda dalam penentuan tuan rumah Piala Dunia 2026.
Saat CAF mendukung pencalonan Maroko, 11 negara Afrika justru memilih tawaran gabungan Kanada, Meksiko, dan Amerika Serikat dalam Kongres FIFA di Moskow pada 2018.
Perbedaan pilihan tersebut terutama berkaitan dengan persoalan Sahara Barat, yang menjadi satu di antara sengketa wilayah terlama di Afrika sejak Spanyol meninggalkan wilayah tersebut pada 1975.
Sejumlah Negara Afrika Tetap Dukung Infantino
Ilustrasi Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF). (Bola.com/AI)
Sejumlah presiden asosiasi sepak bola Afrika mengaku terkejut melihat besarnya reaksi terhadap Infantino.
Namun, mereka memilih tidak menyampaikan pandangan secara terbuka dan masih menunggu apakah akan muncul kandidat yang menantang Infantino pada pemilihan Maret 2027.
Di sisi lain, dukungan resmi terhadap Infantino telah datang dari sejumlah negara dalam sepekan terakhir.
Republik Demokratik Kongo, Mesir, Mauritania, Maroko, dan Niger termasuk negara yang telah menyatakan dukungan. Beberapa negara lainnya juga mengambil sikap serupa.
Presiden Federasi Sepak Bola Benin (FBF) sekaligus anggota Komite Eksekutif CAF, Mathurin de Chacus, juga menyatakan dukungannya kepada Infantino.
"Saya tidak melihat alasan untuk tidak mendukungnya," ujar De Chacus.
Presiden Federasi Sepak Bola Burundi (FFB), Alexandre Muyenge, turut memberikan penilaian positif terhadap kepemimpinan Infantino.
"Dia adalah presiden yang melakukan apa yang diperlukan untuk mendukung Afrika, khususnya negara-negara yang kurang makmur. Rekornya bagus, jadi logis untuk mendukungnya," kata Muyenge.
Proses Pemilihan Presiden FIFA
FIFA menggelar pemilihan presiden setiap empat tahun. Infantino terpilih tanpa lawan pada 2019 dan kembali menjadi calon tunggal pada 2023.
Setiap kandidat yang ingin menantangnya pada pemilihan berikutnya harus menyerahkan pencalonan paling lambat 18 November.
Jika hanya ada dua kandidat, Statuta FIFA menetapkan pemenang harus memperoleh mayoritas sederhana, yakni 106 suara.
Sebanyak 211 asosiasi anggota FIFA masing-masing memiliki satu suara dalam pemilihan tersebut. Sementara itu, enam konfederasi kontinental tidak memiliki hak suara dalam pemilihan Presiden FIFA.
Meski demikian, masing-masing presiden konfederasi mendapat kursi otomatis di Dewan FIFA dengan status wakil presiden.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow