Benarkah Kijing Merusak Lingkungan? Ini Rahasia 3 Unsur Pokok Siklus Air

Smallest Font
Largest Font

Menjaga keberlangsungan cadangan air tanah kini menjadi tantangan besar, terutama ketika area resapan alami terus tertutup oleh material kedap air. Perlu dipahami bahwa siklus air mempunyai 3 unsur pokok yaitu penguapan, presipitasi, dan pengembunan yang bekerja secara terus-menerus di bumi kita. Ketika salah satu jalur pergerakan air ini terhambat oleh aktivitas manusia, maka keseimbangan ekosistem di sekitarnya pasti akan langsung terganggu.

Artikel ini akan mengupas tuntas bagaimana ketiga unsur tersebut bekerja dan mengapa perubahan tata guna lahan bisa memicu kerusakan lingkungan. Siklus hidrologi tidak akan pernah berjalan tanpa adanya komponen-komponen utama yang menggerakkan massa air dari bumi ke atmosfer dan kembali lagi. Berdasarkan materi geografi dan sains dasar, siklus air mempunyai 3 unsur pokok yaitu evaporasi (penguapan), presipitasi (hujan), dan kondensasi (pengembunan).

Dalam kasus yang sering saya temui di lapangan, banyak orang mengira siklus ini hanya urusan awan dan hujan saja. Padahal, interaksi ketiga unsur ini sangat bergantung pada kondisi permukaan tanah yang ada di bawahnya.

1. Evaporasi dan Transpirasi (Proses Penguapan)

Proses ini merupakan langkah awal di mana air dari permukaan bumi berubah menjadi uap air akibat panas matahari. Penguapan tidak hanya terjadi di laut atau sungai, tetapi juga melalui pori-pori tanaman yang disebut transpirasi.

Uap air yang dihasilkan dari proses ini akan bergerak naik menuju lapisan atmosfer yang lebih tinggi. Tanpa adanya penguapan yang konstan, pasokan uap air di udara akan menipis dan mengganggu pembentukan awan hujan.

2. Kondensasi (Proses Pengembunan)

Ketika uap air mencapai ketinggian tertentu yang bersuhu rendah, uap tersebut akan mengalami proses pendinginan. Perubahan wujud dari uap air menjadi titik-titik air halus inilah yang kita kenal sebagai kondensasi.

Titik-titik air ini kemudian berkumpul dan membentuk awan di langit. Semakin banyak uap air yang berkondensasi, maka gumpalan awan akan menjadi semakin tebal dan siap untuk melangkah ke tahap berikutnya.

3. Presipitasi (Proses Jatuhnya Hujan)

Presipitasi adalah peristiwa jatuhnya air dari atmosfer ke permukaan bumi, baik dalam bentuk cair (hujan) maupun padat (salju). Proses ini merupakkan satu-satunya cara alami bagi bumi untuk mengisi ulang cadangan air tawar.

Air hujan yang jatuh ke bumi idealnya harus meresap ke dalam tanah untuk menjadi air tanah. Namun, di sinilah masalah lingkungan sering kali mulai muncul akibat ulah manusia.

Unsur-Unsur Utama Siklus Hidrologi | Unacademy - Indonesia

Dampak Semenisasi Permukaan Tanah Terhadap Siklus Air

Kesalahan umum yang saya lihat adalah kurangnya kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga permukaan tanah agar tetap terbuka. Pembangunan infrastruktur tanpa memperhatikan aspek hidrologi dapat memutus rantai siklus air pada tahapan setelah presipitasi.

Semenisasi atau pembetonan tanah secara masif membuat air hujan tidak memiliki jalur untuk meresap ke dalam lapisan akuifer. Akibatnya, volume air permukaan akan melonjak drastis secara tiba-tiba.

Dari pengalaman saya menangani masalah drainase, tanah yang tertutup semen akan kehilangan kemampuan infiltrasinya hingga seratus persen. Hal ini memicu terjadinya limpasan permukaan (surface runoff) yang merugikan lingkungan sekitarnya.

Kegagalan tanah dalam menyerap air hujan secara optimal merupakan pemicu utama terjadinya penurunan muka air tanah dan bencana kekeringan di musim kemarau.

Untuk memahami lebih jelas mengenai dampak penutupan lahan terhadap kelangsungan siklus air, kita bisa melihat perbandingannya pada daftar di bawah ini.

  • Penurunan Volume Air Tanah: Air hujan langsung mengalir ke selokan dan laut tanpa sempat mengisi ulang sumur bumi.
  • Peningkatan Risiko Banjir: Air yang tidak meresap akan berkumpul di permukaan dan menciptakan genangan besar.
  • Erosi Tanah Meningkat: Aliran air permukaan yang deras akan mengikis lapisan tanah subur yang tersisa di sekitarnya.
  • Suhu Lingkungan Meningkat: Lapangan semen menyerap panas matahari lebih banyak daripada lahan bervegetasi hijau.

Kijing Makam Merusak Lingkungan dan Mengganggu Resapan Air

Salah satu fenomena lokal yang jarang disadari sebagai bagian dari masalah semenisasi adalah tradisi kijing jawa di area pemakaman. Banyak warga memilih untuk membeton atau memasang keramik secara penuh di atas area kuburan keluarga mereka. Secara teknis hidrologi, tindakan ini memicu akibat daerah resapan air berkurang di kawasan pemakaman yang seharusanya berfungsi sebagai ruang terbuka hijau. Ketika seluruh area makam ditutup beton, kawasan tersebut kehilangan fungsinya sebagai penyerap air hujan.

Fakta lapangan menunjukkan bahwa kompleks pemakaman yang padat dengan kijing beton sering kali mengalami genangan air saat hujan deras. Air tidak dapat masuk ke dalam tanah karena terhalang oleh lapisan semen yang kedap air. Pakar lingkungan sering mengingatkan bahwa kijing makam merusak lingkungan jika dilakukan secara berlebihan dan masif. Area makam yang luas seharusnya bisa menjadi penyelamat cadangan air tanah bagi pemukiman di sekitarnya.

Panduan Teknis Menjaga Siklus Air di Lingkungan Sekitar

Untuk mencegah kerusakan lingkungan yang lebih parah, kita perlu mengambil langkah nyata dalam mengelola permukaan tanah. Berikut adalah langkah-langkah berurutan yang dapat Anda lakukan untuk menjaga kelancaran 3 unsur pokok siklus air di lingkungan rumah maupun fasilitas umum:

  1. Batasi Penggunaan Semen dan Beton: Hindari menutup seluruh halaman rumah atau fasilitas umum dengan semen instan.
  2. Gunakan Paving Block Berpori: Jika memerlukan pengerasan jalan atau halaman, pilihlah konblok yang masih menyisakan celah tanah untuk resapan air.
  3. Buat Sumur Resapan atau Biopori: Buatlah lubang biopori secara vertikal di dalam tanah untuk membantu mempercepat proses masuknya air hujan.
  4. Pertahankan Area Hijau: Tanamlah rumput alami dan pepohonan kecil yang akarnya dapat membantu menggemburkan tanah sehingga air lebih mudah meresap.
  5. Terapkan Konsep Ramah Lingkungan pada Makam: Hindari membeton penuh area kuburan dan biarkan bagian atasnya tetap berupa rumput hijau alami.

Sebagai bahan pertimbangan ilmiah dalam mengelola tata ruang, mari kita pelajari data teknis mengenai kemampuan resapan dari berbagai jenis penutup permukaan tanah berikut ini.

Kemampuan Resapan Air Berdasarkan Jenis Penutup Permukaan Tanah
Jenis Penutup TanahTingkat Infiltrasi (%)Dampak Aliran Permukaan
Tanah Berumput Alami85Sangat Rendah
Paving Block Berongga45Sedang
Semenisasi dan Beton0Sangat Tinggi

Tinjauan Aturan dan Pandangan Terhadap Pengerasan Makam

Melihat dampak buruk semenisasi terhadap lingkungan, beberapa daerah kini mulai memperketat aturan mengenai tata ruang pemakaman. Langkah ini diambil karena semakin sempitnya lahan terbuka hijau di kawasan perkotaan yang padat penduduk. Masyarakat kini diajak untuk meninjau kembali urgensi melakukan modifikasi permanen pada makam.

Berdasarkan kajian ekologi, membiarkan tanah makam tetap terbuka jauh lebih bermanfaat bagi kelestarian air bawah tanah. Beberapa lembaga keagamaan juga mulai memberikan edukasi mengenai pembatasan bangunan di atas kuburan. Pendekatan ini dilakukan agar fungsi kuburan sebagai tempat peristirahatan terakhir sekaligus kawasan serapan air tetap terjaga dengan seimbang.

Langkah terbaik adalah beralih ke metode perawatan makam yang lebih alami, seperti menanam rumput gajah mini atau bunga-bunga kecil. Pola ini terbukti mampu menjaga estetika makam tanpa harus merusak ekosistem siklus air yang sangat krusial bagi kehidupan generasi mendatang.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed