Bappenas dan Kemenpora Gelar Forum Road to Talent Fest 2026
Kementerian PPN/Bappenas bekerja sama dengan Kementerian Pemuda dan Olahraga menyelenggarakan forum Road to Talent Fest 2026 Bidang Olahraga di Ruang Rapat Kementerian PPN/Bappenas pada Kamis (13/8/2026), dilansir dari Bola.
Agenda tersebut diadakan guna menyebarluaskan arah kebijakan, memberi ruang apresiasi, serta memperkuat kolaborasi pemangku kepentingan demi mencetak sumber daya ketenagaolahragaan nasional yang berdaya saing global.
Sejumlah pejabat hadir dalam forum ini, seperti Direktur Agama, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga Bappenas Didik Darmanto, Deputi Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Bappenas Pungkas Bahjuri Ali, serta Deputi Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Kemenpora Surono. Selain itu, hadir pula CEO Mills Indonesia Tija Kong Hau, wasit internasional Rahadewineta, pemegang rekor nasional lari Anugrah Styawan Pujo, peraih perak Olimpiade 1988 Lilies Handayani, dan mantan pelari Suryo Agung Wibowo. Acara juga dimeriahkan penampilan atraksi taekwondo, aerobik gymnastik, serta Pencak Silat Panglipur Indonesia yang bersiap tampil di Belanda.
Deputi Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Kementerian PPN/Bappenas Pungkas Bahjuri Ali menegaskan bahwa pembinaan atlet merupakan bagian kunci dari target pembentukan SDM unggul nasional.
"Memperkuat pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM), Sains dan Teknologi serta penguatan pemuda masuk ke dalam 8 Asta Cita sebagai 8 Prioritas Nasional," kata Bahjuri Ali selaku Deputi Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Kementerian PPN/Bappenas.
Terkait pengelolaan atlet, Tenaga Ahli Utama Deputi III Kepala Staf Kepresidenan Lindsey Afsari Putri memberikan catatan khusus mengenai pentingnya membangun ekosistem pembinaan.
"Bakat saja tidak cukup, tantangan besar kita adalah bagaimana pengembangannya,talenta menjadi bakat, bakalt menjadi ekosistem dan berakhir menjadi hasil yang memengaruhi sistem," kata Lindsey Afsari Putri selaku Tenaga Ahli Utama Deputi III Kepala Staf Kepresidenan.
Ia menambahkan bahwa prestasi olahraga membutuhkan keterlibatan lintas sektor secara menyeluruh dari seluruh elemen penunjang.
"Satu medali hasil kerja kolektif kita semua yang ada di sini, atletnya, pelatih, manajemen klub, keluarga dan pemerintah. Lalu bagaimana tata kelola dan pendidikan hingga jaminan kesehatan yang baik untuk para atlet." ucap Lindsey.
Lindsey juga memaparkan sejumlah permasalahan utama yang masih membebani proses pembinaan atlet nasional saat ini.
"Data yang kurang terpantau, pembinaan terfragmentasi, akses kompetisi tidak merata, sport science belum optimal, pendidikan dan karir atlet, transisi antar tahap belum lulus" ungkap Lindsey.
Sementara itu, Deputi Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Kementerian Pemuda dan Olahraga Surono memaparkan target besar jangka panjang pemerintah di cabang olahraga sepak bola.
"Salah satu cita-cita utama kita mengantarkan Indonesia lolos ke Piala Dunia," kata Surono selaku Deputi Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Kementerian Pemuda dan Olahraga.
Dalam upaya mencetak atlet berprestasi, Surono menilai metode pembinaan terintegrasi dapat direplikasi dari figur atlet sukses yang sudah ada.
"Cangkokannya sudah ada, kita tinggal mengikuti apa yang telah dibangun oleh Rizki Juniansyah yang telah dipantau sejak kelas 1 SMP. Usain Bolt adalah contoh pelari tercepat dunia, di Indonesia kita punya Suryo Agung. Kita tinggal ikuti contoh yang sudah ada. Kita sudah punya cangkokannya" tambah Suryono.
Ia menuturkan bahwa cabang olahraga yang belum memiliki contoh sukses akan didorong untuk melakukan studi ke luar negeri. Kendati demikian, proses seleksi atlet muda berbakat masih menghadapi kendala kualitas yang belum merata di lapangan.
"Kita kesulitan mencari pemain berbakat, seleksi untuk masuk ke pemusatan di Cibubur dari 2.500 peserta seleksi, hanya menyisakan 50 peserta berbakat dan itupun di bawah standar," tambahnya.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow