Beringin Mulai Berhitung, Golkar Menguji Lagi Pemerintahan Gusnar

Smallest Font
Largest Font

Beranda Politik Beringin Mulai Berhitung, Golkar Menguji Lagi Pemerintahan Gusnar

Ulanda.id — Ada yang berubah di lingkaran pemerintahan Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail. Belum berupa perpisahan, tetapi cukup untuk membuat koalisi politik mulai terasa berjarak.

Partai Golkar, partai yang ikut mengantarkan Gusnar Ismail dan Idah Syahidah memenangi Pilkada Gorontalo, mulai membuka kembali perhitungan politiknya.

Bukan soal kapan koalisi berakhir. Bukan pula soal siapa yang lebih dulu meninggalkan siapa.

Golkar kini sedang menguji satu pertanyaan yang jauh lebih sensitif: apa yang didapat partai dari kemitraan dengan pemerintahan Gusnar?

Pertanyaan itu muncul dari Fraksi Golkar DPRD Provinsi Gorontalo. Meyke Kamaru, politikus Golkar, mengakui adanya pembahasan mengenai hubungan partai dengan pemerintahan Gusnar.

Ketika ditanya apakah Golkar mempertimbangkan keluar dari koalisi pemerintahan, jawabannya justru membuat isu ini semakin terbuka.

“Kami belum sampai di sana.”

Belum sampai.

Dua kata itu penting. Sebab, kalimat tersebut sekaligus menegaskan bahwa kemungkinan itu telah menjadi bagian dari pertanyaan politik yang dibahas.

Golkar memang belum mengumumkan penarikan dukungan. Namun, partai itu juga tidak lagi sekadar berdiri sebagai pendukung yang menerima seluruh kebijakan pemerintah tanpa catatan.

Prabowo Lepas Bayang Jokowi? Abolisi dan Amnesti Jadi Penanda Arah Baru Istana

Hasil pembahasan Fraksi Golkar akan diteruskan kepada pimpinan DPD Partai Golkar Gorontalo. Sikap resmi partai nantinya ditentukan melalui mekanisme internal.

Dengan begitu, belum ada alasan untuk menyebut Golkar akan segera meninggalkan Gusnar.

Namun, ada satu fakta yang sulit diabaikan: partai pengusung mulai melakukan evaluasi terhadap pemerintahan yang dulu mereka bantu menangkan.

Retakan Itu Datang dari Dalam

Sinyal dari Golkar sebenarnya bukan baru muncul.

Ketua Fraksi Golkar DPRD Provinsi Gorontalo, Ghalieb Lahidjun, sebelumnya juga mempertanyakan kembali hubungan kemitraan dengan pemerintahan Gusnar.

Ghalieb mendorong evaluasi terhadap kemitraan tersebut, terutama dari sisi manfaat bagi masyarakat dan Partai Golkar.

Kini, pernyataan Meyke memperkuat sinyal yang sebelumnya dilempar Ghalieb.

Dua politikus dari Fraksi Golkar berbicara tentang hal yang sama: evaluasi.

Sulit menyebutnya sebagai kebetulan politik.

Jika hanya satu suara, mungkin ia bisa dianggap pendapat pribadi. Tetapi ketika suara serupa muncul dari lebih dari satu kader di tubuh fraksi, pertanyaannya berubah.

Apa sebenarnya yang sedang dibicarakan Golkar?

Apakah partai hanya ingin memperbaiki komunikasi dengan pemerintah?

Apakah Golkar hendak memperkuat posisi sebagai pengawas kebijakan Gusnar?

Atau sedang mempersiapkan pilihan politik apabila hubungan itu tidak lagi menemukan titik temu?

Belum ada jawaban.

Dan justru di situlah persoalannya menjadi menarik.

Demokrat Memilih Bertahan

Di saat Golkar mulai mengeraskan nada, Partai Demokrat memilih memainkan musik yang berbeda.

Ketua Satgas DPD Partai Demokrat Gorontalo, Helmi Rasid, menyatakan pemerintahan Gusnar Ismail tetap solid dan fokus menjalankan agenda pembangunan.

Menurut Helmi, penilaian terhadap pemerintah merupakan bagian dari dinamika politik. Ukuran akhirnya, kata dia, berada di tangan masyarakat yang merasakan langsung hasil pembangunan.

Pernyataan Demokrat itu seperti rem di tengah suara evaluasi Golkar.

Ada partai yang mengatakan pemerintahan masih solid. Ada pula partai pengusung yang mulai bertanya tentang manfaat kemitraan.

Dua nada itu kini hidup bersamaan di dalam barisan pendukung Gusnar.

Koalisi Belum Pecah, Tapi Suasananya Berubah

Musda VI Partai Golkar Gorontalo Diharapkan Lahirkan Gagasan Baru untuk Kemajuan Daerah

Dalam politik, keretakan jarang dimulai dengan pintu yang dibanting.

Sering kali ia dimulai dari rapat tertutup, percakapan antarkader, pertanyaan tentang posisi, lalu evaluasi yang perlahan menjadi keputusan.

Gusnar juga belum kehilangan dukungan partai tersebut.

Tetapi hubungan politik keduanya kini sedang berada di meja pemeriksaan.

Bagi Gusnar, persoalannya bukan hanya bagaimana mempertahankan kursi gubernur dan menjalankan program pemerintahan. Ia juga harus menjaga agar barisan politik yang membawanya ke kursi kekuasaan tidak berubah menjadi barisan yang paling keras mengkritiknya.

Bagi Golkar, persoalannya pun tidak sederhana.

Meninggalkan pemerintahan berarti mengambil risiko politik. Bertahan tanpa perubahan juga membawa konsekuensi.

Karena itu, untuk sementara Golkar memilih jalan ketiga: menghitung.

Dan kalkulator politik itu kini sudah dinyalakan.

Yang jelas, pohon beringin itu masih berdiri di halaman pemerintahan Gusnar Ismail.

Pertanyaan berikutnya bukan lagi apakah Golkar sedang marah.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed