Pihak UNG Usut Dugaan Penjualan Atribut PKKMB Mahasiswa Baru

Smallest Font
Largest Font

Pelaksanaan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru Universitas Negeri Gorontalo atau PKKMB UNG 2026 menjadi sorotan publik. Hal ini dipicu oleh dugaan penjualan atribut kegiatan serta paket makanan ringan kepada mahasiswa baru. Dikutip dari Ulanda, isu tersebut menimbulkan pertanyaan serius mengenai transparansi pelaksanaan orientasi kampus.

Publik mempertanyakan mekanisme pengadaan barang hingga kemungkinan adanya kewajiban pembelian bagi para peserta. Informasi yang beredar menyebutkan bahwa baju atribut PKKMB ditawarkan dengan harga sekitar Rp120 ribu. Selain itu, terdapat pula paket makanan ringan bersponsor yang dipatok berkisar Rp25 ribu hingga Rp50 ribu.

Sorotan utama publik tidak hanya tertuju pada besaran nominal biaya yang harus dibayar mahasiswa. Persoalan mendasar terletak pada kepastian status pembelian tersebut, apakah murni sukarela atau menjadi syarat tidak tertulis.

PKKMB merupakan gerbang awal mahasiswa untuk memasuki lingkungan perguruan tinggi. Fase ini menjadi momentum krusial untuk mengenalkan budaya akademik, organisasi kemahasiswaan, etika kampus, serta nilai-nilai intelektual dasar. Setiap rangkaian aktivitas orientasi idealnya mengedepankan prinsip keterbukaan serta akuntabilitas publik. Kejelasan aturan sangat diperlukan mengingat posisi mahasiswa baru masih tergolong rentan dan belum memahami mekanisme kampus.

Menanggapi polemik yang berkembang, Wakil Rektor Universitas Negeri Gorontalo, Prof. Dr. Muhammad Amir Arham, M.E., memberikan penjelasan resmi.

Ia menegaskan bahwa kampus tidak mewajibkan mahasiswa baru membeli kebutuhan apapun. "Jadi, sebenarnya sifatnya dilarang. Tapi, kalau ada yang menjual maka tidak ada dalam bentuk paksaan," kata Muhammad Amir saat dikonfirmasi pada Selasa, 11 Agustus 2026.

Ia menjelaskan bahwa agenda PKKMB diselenggarakan di tingkat fakultas dan jurusan selama dua hari. Kepanitiaan kegiatan tersebut melibatkan dosen, tenaga kependidikan, hingga pengurus BEM. "PKKMB berlangsung di fakultas dan jurusan selama dua hari dan panitianya adalah dosen, mahasiswa pengurus BEM," ujarnya.

Amir mengaku belum menerima laporan secara lengkap mengenai dugaan transaksi atribut maupun makanan tersebut. Pihaknya berjanji akan melakukan penelusuran lebih lanjut guna mengidentifikasi unit yang terlibat.

"Saya belum cek. Nanti saya cek dari mahasiswa mana, fakultas apa," katanya.

Ia kembali menekankan bahwa asas utama kegiatan orientasi di kampus tersebut adalah kebebasan tanpa paksaan finansial. Mahasiswa tidak boleh dibebani oleh aturan pembelian tertentu. "Pada prinsipnya tidak ada kewajiban yang mengharuskan mahasiswa baru membeli," tegasnya.

Pentingnya Transparansi dan Tata Kelola Kampus

Penegasan dari pihak rektorat memastikan bahwa segala bentuk penjualan tidak boleh disertai tekanan. Apabila terjadi transaksi dagang, aktivitas itu tidak boleh menjadi prasyarat kepesertaan orientasi.

Meski demikian, sejumlah pertanyaan krusial masih membutuhkan kejelasan dari pihak penyelenggara. Informasi mengenai pihak penjual, mekanisme pengadaan, dasar penetapan harga, hingga alokasi dana belum terungkap secara rinci. Kejelasan seluruh aspek tersebut sangat penting guna mencegah spekulasi liar di masyarakat. Transparansi informasi juga diperlukan untuk menjaga tingkat kepercayaan publik terhadap kredibilitas institusi pendidikan.

Mengingat jumlah peserta PKKMB sangat besar, setiap kebijakan terkait kebutuhan mahasiswa harus diumumkan secara terbuka. Kepastian status pembelian menjadi bentuk perlindungan nyata bagi para mahasiswa baru. Di sisi lain, polemik ini menjadi ujian bagi tata kelola kegiatan kemahasiswaan di lingkungan UNG. Universitas memikul tanggung jawab besar untuk menjamin seluruh agenda berjalan di atas asas integritas.

Pengurus BEM yang terlibat dalam kepanitiaan juga memegang peranan penting. BEM harus memastikan orientasi kampus tidak memunculkan kesan adanya praktik yang memberatkan peserta didik baru. Hal utama yang dipertaruhkan dalam polemik ini adalah persepsi awal mahasiswa terhadap budaya akademis.

PKKMB semestinya menjadi wadah pemupukan semangat kritis, solidaritas, serta nilai-nilai kejujuran. Pengecekan yang dijanjikan manajemen kampus perlu direalisasikan secara transparan. Keterbukaan menjadi kunci utama agar PKKMB UNG 2026 tetap menjadi pintu masuk perguruan tinggi yang sehat.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed