Harga Pakan Ayam Naik Tiga Kali, PINSAR Bantah Diam Hadapi Keluhan Peternak

Smallest Font
Largest Font

Beranda Parlemen DPRD Provinsi Gorontalo Harga Pakan Ayam Naik Tiga Kali, PINSAR Bantah Diam Hadapi Keluhan Peternak

Ulanda.id – Kenaikan harga pakan ayam Gorontalo dalam dua bulan terakhir semakin menekan peternak. Harga pakan disebut telah naik tiga kali, sementara biaya produksi terus bergerak dan harga jual ayam maupun telur tidak mudah dinaikkan.

Kondisi itu membuat peternak berada dalam posisi sulit: menaikkan harga berisiko menekan daya beli konsumen, sedangkan mempertahankan harga jual berarti menerima margin keuntungan yang semakin tipis.

Tekanan tersebut kemudian memunculkan sorotan terhadap Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (PINSAR). Organisasi yang menjadi wadah perjuangan peternak itu dinilai perlu mengambil sikap lebih tegas menghadapi kenaikan biaya produksi.

Ketua PINSAR wilayah Gorontalo sekaligus anggota DPRD Provinsi Gorontalo, Hi. Suyuti, membantah anggapan bahwa organisasinya lamban merespons persoalan tersebut.

Ia mengatakan kenaikan harga pakan bukan persoalan yang hanya terjadi di Gorontalo, melainkan juga dirasakan pelaku usaha unggas di berbagai daerah.

“Dalam dua bulan harga pakan sudah tiga kali mengalami kenaikan. Ini bukan hanya terjadi di Gorontalo, tetapi menjadi kondisi di hampir seluruh daerah di Indonesia,” kata Suyuti.

Anggota Deprov Gorontalo Kristina Udoki Dorong Pemerintah Pusat Bantu Pembangunan Jalan ke Pinogu

Menurut Suyuti, PINSAR telah beberapa kali menyampaikan persoalan tersebut kepada pemerintah. Koordinasi dilakukan bersama Pemerintah Provinsi Gorontalo melalui Dinas Peternakan.

PINSAR juga telah menyurati Kementerian Pertanian untuk meminta perhatian terhadap persoalan harga dan ketersediaan bahan baku pakan.

“Sudah kami lakukan. Bukan sekali dua kali. Kami sudah berkoordinasi dengan pemerintah provinsi, Dinas Peternakan, bahkan menyurati kementerian,” ujarnya.

Namun berbagai komunikasi tersebut belum menghasilkan perubahan signifikan bagi peternak. Harga pakan masih tinggi, sementara sejumlah bahan baku masih sulit diperoleh.

Suyuti mengakui kondisi itu mengecewakan, tetapi ia menegaskan PINSAR tidak berhenti memperjuangkan kepentingan peternak.

“Sudah cukup kami berjuang, tapi kondisi masih seperti ini. Meski upaya PINSAR sudah cukup, kami tidak putus semangat,” tegasnya.

Suyuti juga meminta peternak ikut terlibat dalam upaya mencari solusi.

Komisi IV DPRD Gorontalo Matangkan Agenda Kerja dan Tindak Lanjut Kunjungan

Menurut dia, persoalan pakan tidak dapat dibebankan sepenuhnya kepada organisasi. Peternak perlu hadir dalam forum, menyampaikan kondisi lapangan, dan bersama-sama menentukan langkah yang harus ditempuh.

Ia bahkan mengaku kecewa karena sebagian peternak yang mengeluhkan kenaikan harga justru tidak hadir ketika PINSAR menggelar pertemuan.

“Kalau diundang untuk duduk bersama dalam rapat, banyak yang tidak hadir. Padahal dari situ kita bisa mencari solusi bersama,” katanya.

PINSAR, kata Suyuti, telah mengikuti sejumlah pembahasan di pusat mengenai persoalan industri unggas. Salah satunya rapat evaluasi bersama Koperasi PINSAR Unggas Unit GPS sebagai anggota baru GPPU, membahas Persoalan kelangkaan bahan baku juga menjadi perhatian, termasuk BKK dan soybean meal (SBM) atau bungkil kedelai, dijakarta beberapa waktu lalu.

Suyuti menegaskan PINSAR tidak tinggal diam dan tetap menjalankan upaya – upaya komunikasi dengan pemerintah hingga Kementrian.

Ditanyai soal PT. Berdikari, Suyuti mendukung aspirasi peternak yang meminta perusahaan itu dibubarkan karena dinilai memiliki pengaruh terhadap kondisi perdagangan bahan baku.

“Saya setuju dan mendukung keinginan peternak,” kata Suyuti.

Sebelumnya Wakil Ketua KNPI Kota Gorontalo Bidang Peternakan dan Perikanan, Sandi Mobi, mendesak Dinas Peternakan Provinsi Gorontalo mengambil langkah lebih konkret. Ia juga meminta PINSAR menunjukkan peran yang lebih kuat dalam memperjuangkan kepentingan peternak.

“PINSAR harusnya berdiri bersama peternak. Kalau harga pakan naik tiga kali dalam dua bulan, itu bukan persoalan kecil. Harus ada sikap dan langkah nyata,” ujar Sandi.

Kenaikan harga pakan ayam Gorontalo kini tidak lagi sekadar persoalan harga. Masalah tersebut menyentuh rantai pasok bahan baku, distribusi, kebijakan impor, nilai tukar, hingga posisi tawar peternak. Di tengah kondisi itu, pemerintah dan organisasi peternak dituntut menghasilkan langkah nyata.

Bagi peternak, koordinasi dan rapat hanya akan berarti jika berujung pada ketersediaan bahan baku, harga pakan yang lebih terkendali, dan biaya produksi yang tidak terus menggerus keuntungan usaha mereka.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow