Terjebak Soal Ujian Sejarah, Ternyata Ini yang Bukan Ciri Historiografi Kolonial

Smallest Font
Largest Font

Menghadapi pertanyaan mengenai ujian sejarah seringkali membuat para pelajar kebingungan, terutama saat harus menentukan aspek mana yang bukan ciri historiografi kolonial secara tepat. Banyak orang terkecoh karena mengira semua tulisan zaman dahulu memiliki karakteristik yang sama, padahal setiap era membawa sudut pandang yang bertolak belakang.

Memahami konsep penulisan sejarah bukan sekadar menghafal teks untuk kebutuhan nilai akademis.

Dari pengalaman saya mendampingi para siswa bedah soal sejarah, kekeliruan paling umum terjadi akibat kegagalan membedakan sudut pandang atau pemosisian aktor utama dalam narasi masa lalu.

Artikel ini akan memandu Anda secara teknis dan logis untuk membedah konsep penulisan sejarah era penjajahan Belanda secara komprehensif.

Langkah pertama sebelum Anda mampu mengeliminasi pilihan jawaban yang salah dalam soal ujian adalah memahami definisi dasarnya terlebih dahulu. Jangan langsung melompat ke latihan soal tanpa fondasi teoretis yang kuat.

Secara teknis, apa itu historiografi dapat diartikan sebagai proses rekonstruksi atau penulisan sejarah oleh para sejarawan berdasarkan sumber-sumber yang telah dikritik. Di Indonesia sendiri, perkembangan penulisan ini tidak berjalan di satu jalur yang sama melainkan terus berevolusi seiring perubahan kekuasaan dan cara berpikir masyarakat.

Mari kita breakdown perkembangan ini ke dalam peta klasifikasi yang diakui secara akademis.

Berdasarkan catatan dari Tempo.co, jenis jenis historiografi di Indonesia secara umum dibagi menjadi 4 jenis, yaitu:

  1. Historiografi tradisional
  2. Historiografi kolonial
  3. Historiografi nasional
  4. Historiografi modern

Dalam kasus yang sering saya temui di lapangan, pemahaman yang setengah-setengah terhadap keempat kategori di atas menjadi celah utama yang membuat nilai ujian siswa merosot. Oleh karena itu, mari kita bedah langkah demi langkah karakteristik spesifik dari model penulisan era penjajahan agar Anda tidak salah pilih lagi.

Cara Mengidentifikasi Karakteristik Utama yang Melekat pada Tulisan Kolonial

Langkah kedua adalah mengenali sifat bawaan dari produk literatur bentukan pemerintah asing di masa lalu. Produk tulisan ini memiliki tujuan politik yang sangat kuat, bukan sekadar mendokumentasikan peristiwa demi ilmu pengetahuan semata.

Karakteristik utama dari tulisan era penjajahan ini bersifat Neerlandosentris atau Eropasentris. Artinya, seluruh fokus perhatian, sudut pandang, dan interpretasi sejarah dipusatkan dari kacamata kepentingan bangsa Belanda atau Eropa di tanah jajahan.

Jika Anda membaca teks tersebut, Anda akan menyadari bahwa aktivitas orang-orang pribumi sering kali dikesampingkan atau bahkan dianggap sebagai gangguan keamanan belaka.

Ciri utama penulisan kolonial selalu menempatkan penguasa asing sebagai pahlawan pembawa peradaban, sedangkan perlawanan lokal dicap sebagai pemberontakan yang merugikan.

Selain Eropasentris, ciri lainnya adalah bersifat Mitologis-Subjektif bagi kepentingan penjajah dan banyak menggunakan sumber-sumber resmi dari pihak kerajaan atau kongsi dagang seperti VOC. Fokus bahasannya pun sangat sempit, biasanya hanya berkisar pada kehidupan para gubernur jenderal, perang besar, atau ekspansi dagang.

Strategi Menemukan Poin yang Bukan Ciri Historiografi Kolonial

Langkah ketiga, yang merupakan inti dari pemecahan masalah Anda, adalah merumuskan apa saja hal yang bertentangan dengan sifat kolonial tersebut. Ketika Anda berhadapan dengan soal pilihan ganda, carilah opsi yang tidak menunjukkan keberpihakan pada asing.

Poin yang paling mutlak dan menjadi jawaban utama dari pertanyaan "berikut ini yang bukan ciri historiografi kolonial adalah" biasanya berkisar pada sifat Regiosentris, Indonesiasentris, atau fokus pada legitimasi raja-raja lokal.

Sifat-sifat ini merupakan domain dari kategori penulisan sejarah yang lain.

Untuk memudahkan Anda melakukan eliminasi jawaban saat ujian, perhatikan perbandingan karakteristik mendasar yang diadopsi dari panduan belajar Brain Academy berikut ini:

Perbandingan Karakteristik Berbagai Jenis Historiografi di Indonesia
Kategori HistoriografiFokus Sudut PandangSubjek Utama Narasi
TradisionalIstanasentris / RegiosentrisRaja dan Keluarga Kerajaan
KolonialEropasentris / NeerlandosentrisGubernur Jenderal dan Aktivitas VOC
NasionalIndonesiasentrisPerjuangan Rakyat dan Tokoh Bangsa
ModernMultidimensi / KritisMasyarakat Luas dan Aspek Sosial

Melalui visualisasi data di atas, kita dapat menyimpulkan secara logis bahwa jika ada pilihan jawaban seperti "bersifat Indonesiasentris" atau "fokus pada kepentingan rakyat lokal", maka itulah jawaban yang bukan merupakan ciri dari tulisan kolonial.

Menganalisis Contoh Historiografi Kolonial Melalui Karya Monumental

Langkah keempat untuk memperdalam analisis Anda adalah dengan membedah contoh dokumen nyata yang pernah terbit. Dengan melihat langsung contoh konkret, Anda akan memahami bagaimana bias ideologi kolonial disisipkan di antara baris-baris kalimat sejarah.

Salah satu contoh historiografi kolonial yang sangat terkenal dalam lini masa sejarah kita adalah buku berjudul History of Java.

Buku ini ditulis oleh Thomas Stamford Raffles dan diterbitkan pada tahun 1817.

Penulisan Sejarah Kolonial | SEJARAH KITA

Meskipun buku karya Raffles tersebut kaya akan data geografis dan budaya, sudut pandang yang digunakan tetap menempatkan masyarakat lokal sebagai objek pengamatan dari kacamata penguasa panggung kolonial.

Kesalahan umum yang saya lihat adalah banyak orang mengira semua buku tebal zaman dulu otomatis masuk kategori tradisional, padahal tahun penerbitan buku History of Java karya Thomas Stamford Raffles adalah tahun 1817 (era transisi kekuasaan Inggris-Belanda), yang secara tegas mengategorikannya ke dalam jenis kolonial akibat bias cara pandang barat di dalamnya.

Menguasai Perbedaan Historiografi Tradisional dan Kolonial

Langkah kelima sekaligus langkah terakhir dalam metode edukasi ini adalah mempertajam pemisahan antara rumpun tulisan tradisional dan kolonial. Kedua jenis ini sering kali tumpang tindih dalam memori ingatan para pelajar karena sama-sama berasal dari masa lalu.

Perbedaan historiografi tradisional dan kolonial terletak pada pusat legitimasi kekuasaan yang ingin dibangun. Tulisan tradisional diproduksi oleh para pujangga keraton atas perintah raja untuk memperkuat kedudukan mistis sang penguasa lokal di mata rakyatnya.

Sebaliknya, tulisan kolonial dibuat oleh pegawai pemerintah asing atau akademisi barat untuk memperkuat cengkeraman politik dan ekonomi mereka atas wilayah jajahan.

Berikut adalah rincian aspek yang membedakan keduanya secara kontras:

  • Pihak Penulis: Tradisional ditulis oleh pujangga lokal; Kolonial ditulis oleh sejarawan/pejabat Barat.
  • Tujuan Utama: Tradisional untuk legitimasi mistis raja; Kolonial untuk legitimasi politis penjajahan.
  • Ciri Historiografi Tradisional: Bersifat istanasentris, regiosentris, dan penuh unsur mitos lokal.
  • Ciri Historiografi Kolonial: Bersifat Eropasentris, mengagungkan VOC, dan fokus pada dinamika pemerintahan Batavia.

Mengingat batas-batas tegas dari setiap karakteristik penulisan sejarah ini akan membantu Anda meningkatkan akurasi jawaban secara instan. Ketika Anda mendapati narasi yang meninggikan derajat bangsa Indonesia atau menggunakan metodologi kritis multidimensi, Anda bisa langsung mencoretnya dari daftar karakteristik kolonial karena itu sudah memasuki ranah historiografi nasional dan modern.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow